.....Dengan teknologi EOR kita sangat berharap lifting minyak crude meningkat.....Jakarta (ANTARA Jambi) - Ketua Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII) Nanang Untung mengatakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dapat menggenjot produksi minyak mentah (crude oil) untuk mengeksplorasi minyak dan gas sehingga dapat mencapai kemandirian energi nasional.
"Dengan teknologi EOR kita sangat berharap lifting minyak crude meningkat," kata Nanang dalam Diskusi Panel EOR III BKKPII-AITMI 2014 "Partisipasi Industri Kimia Nasional dalam Mendukung Era EOR untuk Ketahanan Energi" di Gedung Pertamina Pusat, Kamis.
Teknologi EOR merupakan metode pengurasan minyak tingkat lanjut untuk mengoptimalkan produksi sebuah lapangan migas.
Nanang mengatakan saat ini cadangan minyak di lapangan atau sumur primer sudah mulai menipis, maka dengan teknologi EOR bisa menguras minyak pada lapisan sekunder dan tersier.
"Lapangan minyak sudah harus masuk ke 'secondary' dan 'tertier' yang bisa dilakukan dengan tekonologi EOR. Diperlukan riset handal untuk meningkatkan lifting, salah satunya dengan metode EOR water and chemical floading. Tetapi faktor biaya menjadi pertimbangan," jelas Nanang.
Eksplorasi migas dengan teknologi EOR, lanjutnya, memang menjadi salah satu upaya untuk mengatasi kekurangan produksi minya mentah nasional akan tetapi membutuhkan biaya yang mahal untuk penerapan EOR. Saat ini, cadangan minyak nasional tersisa 10 tahun padahal pada tahun 1970-1n, Indonesia pernah berproduksi 1,6 juta barrel.
Namun, menurut Nanang, dengan lifting minyak mentah yang meningkat nantinya bisa meningkatkan penerimaan negara. Sementara saat ini Indonesia justru harus menanggung beban keuangan untuk impor minyak mentah.
"Keuangan negara menerima beban besar impor minyak mentah. Pemerintah dan rakyat memerlukan seluruh kemampuan insinyur. Selain itu, dibutuhkan kerja sama pemerintah, SKK Migas, KKKS, Pertamina, lembaga riset dan universitas serta akademisi, bisnis, government (abg) bisa terjalin dengan lebih baik," kata Nanang.
"Dengan diskusi panel ini diharapkan mendorong aplikasi EOR secara benar, sekaligus jadi 'driving force.' Umur kondisi lapangan minyak dapat bertambah serta euangan negara dapat ditekan dan EOR dapat diterapkan dalam waktu tidak lama lagi," tambahnya.
Peningkatan produksi melalui teknologi EOR dinyatakan dalam Permen No 06 Tahun 2010 tentang Peningkatan Produksi Migas dan Inpres No 2 Tahun 2012. Dalam Permen No 6 Tahun 2010, antara lain ditetapkan bahwa KKKS memproduksikan kembali lapangan yang pernah berproduksi, salah satunya melalui teknologi EOR.
Pada kesempatan yang sama, Dirjen Migas Kementerian ESDM A. Edy Hermantoro yang mewakili Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan lapangan minyak yang tidak berproduksi namun berpotensi harus dimaksimalkan kembali.
"Itu bisa dimaksimalkan kembali, juga sumur tua. Sekarang, EOR ini bukan masalah teknologi, hanya tinggal menjahit manajemennya," ujar Edy.
Pewarta: MonalisaEditor : Edy Supriyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026