......Sebelumnya kawasan 'geopark' tersebut termasuk Kabupaten Krinci, Sarolangun dan Tanjung Jabung Barat. Kini taman bumi itu hanya meliputi wilayah Merangin......Jambi (ANTARA Jambi) - Kawasan objek wisata 'geopark' atau taman bumi Merangin Provinsi Jambi dipersempit agar bisa masuk penilian Unesco 2016 sebagai warisan dunia, kata Wakil Bupati Merangin Khafid Moein.
"Sebelumnya kawasan 'geopark' tersebut termasuk Kabupaten Krinci, Sarolangun dan Tanjung Jabung Barat. Kini taman bumi itu hanya meliputi wilayah Merangin," kata wakil bupati Merangin saat dihubungi dari Jambi, Senin.
Dijelaskan, selain kurangnya partisipasi masyarakat dan infrastruktur pendukung, kegagalan 'geopark' Merangin masuk jaringan Unesco 2014 juga dikarenakan luasnya kawasan.
'Geopark' Merangin sebelumnya memiliki luas 20.360 kilometer per segi yang terbagi dengan empat bagian. Yakni, Paleobotani Park Merangin, Highland Park (Kerinci), Geo-Cultural Park (Sarolangun) dan Godwana Park Pegunungan Bukit Tiga Puluh (Tanjungjabung Barat).
'Paleobotani Park' Merangin sendiri terbagi atas tiga zona. Yakni, zona tangkapan di kawasan Kota Bangko, zona inti geoconservation, bioconservation, cultural, dan conservation serta zona penyangga yang merupakan daerah sepanjang daerah aliran sungai.
Luas 'Paleobotani Park' Merangin adalah 1.551 kilometer persegi yang terbagi atas dua zona. Zona pertama disebut 'geoconservation'. Di zona itu ada dua blok, yakni, kawasan Jambi flora yang meliputi Desa Air Batu hingga Desa Biuku Tanjung serta kawasan Kars Sengayau di Sungai Manau dan Kars Jangkat.
Dan Kars Sengayau meliputi 13 gua yang pernah ditempuh masyarakat setempat selama 12 hari.
Zona kedua disebut 'bioconservation'. Yakni, kawasan hutan lindung dan hutan adat di Merangin. Salah satunya hutan adat Guguk di Desa Guguk, Kecamatan Renah Pembarap. Hutan Guguk memiliki luas sekitar 690 hektare.
Keluarnya Kabupaten Kerinci, Sarolangun dan Tanjung Jabung Barat dari kawasan 'geopark' Merangin, diputuskan pada pertemuan 'geopark nasional' di Yogyakarta Agustus lalu.
"Saya menghadiri langsung pertemuan 'geopark' nasional dan persiapan menyambut penilaian Unesco 2016 itu," kata Khafid Moien.
Dipersempitnya kawasan 'geopark', kata Wabup, untuk mempermudah pembinaan oleh Unesco. Selain itu agar mudah memberikan bantuan jika telah diakui menjadi warisan dunia.
"Kalau hanya Merangin mudah memberikan bantuan. Tapi kalau banyak kawasan susah memberikan bantuan. Memang itu sudah ketentuan Unesco," katanya.
Menurutnya, pada penilaian 2014, tidak hanya 'geopark' Merangin yang gagal masuk jaringan dunia, tapi juga ada lima kawasan lainnya.
"Penyebabnya hampir sama, kawasan yang diajukan terlalu luas. Danau Toba juga diperkecil kawasannya," katanya menjelaskan.
Untuk persiapan penilaian 2016, Pemkab Merangin kata Wabup akan fokus melakukan pembinaan untuk partisipasi masyarakat dan peningkatan infrastruktur kawasan.
"Langkah kita selanjutnya memperbaiki infrastruktur di kawasan 'geopark' dan juga meningkatkan partisipasi masyarakat. Kelemahan kita selama ini kan itu," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, Edi Erizon mengatakan, 'geopark' atau taman bumi Merangin di Provinsi Jambi sedang berbenah dalam upaya meraih pengakuan internasional sebagai warisan dunia.
"Sebenarnya kita sudah pernah dinilai Unesco untuk mendapatkan pengakuan warisan dunia, tapi masih ada beberapa hal yang belum kita penuhi secara administrasi, dan sekarang kita sedang berbenah," kata Edi Erizon. (Ant)
Pewarta: Dodi SaputraUploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026