Jambi, 27/1 (Antara) - Musim panen buah duku di kawasan percandian Muarojambi di Kabupaten Muarojambi mewarnai suasana kunjungan wisata di obyek wisata unggulan daerah itu.
"Sekitar 3.000-an hektar di kawasan percandian Muarajambi memang dipenuhi dengan pohon duku, juga di sekitar kawasan kecamatan Muaro Sebo ini juga sedang musim panen buah duku," kata Mukhlis, salah seorang warga di Desa Muarojambi, Minggu.
Puluhan ribu pohon duku di kawasan tersebut hampir merata sedang berbuah yang siap panen. Butiran kuning buah duku hampir di seluruh pohon buah tersebut.
Termasuk juga pohon-pohon duku yang berada di kompleks wisata atau yang berdekatan dengan lokasi candi-candi di sana. Bahkan pengunjung bisa memungut buah duku yang rontok akibat sudah matang di pohon.
Bagi sejumlah pengunjung bahkan menjadi objek foto. Buah berbutir kuning tersebut hampir merata di setiap pohon.
Sejumlah pedagang duku dari warga setempat juga bermunculan menjual dengan harga Rp5.000 per kilogram. Bahkan ada yang menjual dengan harga Rp10.000 per tiga kilogram.
"Ya kami jual Rp5.000 per kilogram, sedangkan yang rontok dari pohon atau jatuh Rp10.000 per tiga kilogram," kata salah seorang pria pedagang buah duku yang menggunakan sepeda.
Buah duku yang dijajakannya berasal dari kebun duku miliknya di kawasan itu. Ia memanfaatkan momen liburan di kawasan itu untuk berdagang buah duku.
"Kami jual seperti harga di kebun," katanya.
Kendati kawasan percandian Muarojambi "dikepung" kebun duku yang sedang berbuah dan musim panen, namun sejauh ini belum ada kegiatan yang khusus mensinergikan musim duku di daerah itu dengan kegiatan wisata setempat.
Kecuali di lokasi wisata Lubuk Penyengat yang berjarak sekitar dua kilometer dari Kompleks Percandian Muarojambi, komunitas desa wisata di sana menjadikan musim duku sebagai potensi wisata dengan menggelar Festival Ngundoh Duku.***1***
Pewarta: Syarif AbdullahEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026