Jambi (ANTARA) - Kendati sebagian besar rumah tangga telah menggunakan gas elpiji untuk memasak, namun tidak membuat Anwar, pembuat dan penjual "anglo" atau tungku kayu bakar meninggalkan produk perapian tradisional itu

Anwar masih bertahan menjual anglo di kiosnya di Jalan KH A Majid Kelurahan Teluk Kenali Kecamatan Telanaipura Kota Jambi. Anglo  terbuat tanah liat dan abu gosok yang dicetak secara tradisional kini sudah sedikit orang yang menggunakannya

"Lha masih ada juga warga yang membutuhkan anglo, tak semua pakai elpiji.  Waktu gas elpiji habis bisa pakai anglo ini," katanya.

Ia sudah cukup lama membuat dan menjual anglo di rumahnya. Ia menjejerkan anglo berbagai ukuran di kiosnya yang diberi selasar biar bisa menampung produk berbagan tanah liat itu.

Bagi orang yang melintas di jalan KH A Majid, dipastikan bisa melihat kios milik Anwar yang diisi dengan jejeran anglo berwarna merah bata.

Anglo yang terbuat dari bahan tanah liat dan abu gosok ini masih dibuat dengan cara  tradisional.

"Abu gosok kami dapatkan dan kiriman dari Palembang, kalau tanah liat di Jambi sini juga banyak,"  katanya.

Ia menyebutkan, ia bisa memproduksi 15 sampai 20 anglo  dalam waktu  waktu  5 sampai 7 hari dari mulai proses awal hingga pembakaran ataupun finishing. Proses pembuatan dia lakukan di belakang rumahnya.

"Anglo kami jual dari harga Rp40 ribu sampai Rp500 ribu dari yang kecil hingga berukuran paling besar," katanya.

Ia menyebutkan, omset penjualan anglo tidak menentu. Namun selalu ada saja pembeli. Terkadang para pengrajin makanan atau kue, juga kerap membeli anglo buatannya untuk perapian pembuatan kue atau makanan lainnya.

Berdasarkan pengakuan mereka, proses pembuatan atau memasak kue-kue atau penganan dengan menggunakan anglo memberikan aroma yang khas yang tidak didapat dengan pembakaran menggunakan gas elpiji atau minyak tanah.

"Penjualan agak menurun, terlebih saat COVID-19.  Biasanya selain pembeli langsung ke kios, juga ada pesanan dari pelanggannya untuk dijual kembali," katanya.



Pewarta: Masrul
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026