Jambi (ANTARA) - PT Wirakarya Sakti (WKS), unit usaha APP Group, terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui berbagai kegiatan sosialisasi, patroli, dan pelibatan masyarakat. Upaya ini merupakan implementasi pilar pertama Integrated Fire Management (IFM) APP Group, yakni prevention atau pencegahan.
Fire Preparation Head PT WKS, Agus Sibarani di Jambi Rabu mengatakan bahwa langkah pencegahan dilakukan secara berlapis, mulai dari sosialisasi ke masyarakat hingga edukasi di sekolah-sekolah dan kegiatan prevention di sini antara lain berupa sosialisasi kepada masyarakat, edukasi di sekolah, dan pemasangan plang-plang himbauan, internal perusahaan juga kami latih agar tahu bagaimana mengantisipasi kebakaran serta memadamkan api secara cepat.
Agus menambahkan, komitmen perusahaan juga berlaku hingga area di luar konsesi PT WKS melakukan patroli dan pemantauan hingga radius 5 kilometer dari batas konsesi dengan dukungan menara api, CCTV, dan drone dimana kalau ada asap dalam radius 5 Kilometer, tim langsung merespon nya.
Menurutnya patroli dilakukan setiap hari pagi hingga malam hari dengan panduan Fire Danger Rating System (FDRS). Sistem ini menentukan tingkat kewaspadaan, mulai dari level biru (rendah) hingga merah (Ekstrem).
“Kalau sudah masuk kuning atau merah, tim semua siaga. Bukan hanya tim pemadam, tapi seluruh karyawan di distrik juga harus siap, melaporkan kondisi wilayah setiap 30 menit ke Situation Room,” jelasnya.
Selain patroli dan edukasi, WKS juga memperkuat sinergi dengan pemerintah dan aparat. Perusahaan terintegrasi dalam Satgas Karhutla Provinsi Jambi dan bekerja sama dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta kepolisian setempat.
Peran masyarakat juga menjadi bagian penting. Melalui Masyarakat Peduli Api (MPA), warga lokal dilatih penanggulangan kebakaran dan dilibatkan dalam pemantauan lapangan.
"MPA yang kita berdayakan ini berjumlah sekitar 10 orang per Distrik. Mereka aktif melaporkan kondisi melalui grup WhatsApp tiap jam. Karena mereka warga setempat, mereka tahu persis lokasi-lokasi yang rawan dan bisa memberi laporan cepat,” ujar Agus.
Menurut Agus, tingginya minat masyarakat untuk bergabung menjadi MPA menunjukkan bahwa upaya pencegahan karhutla semakin mendapat dukungan dari warga desa.
"Biasanya kalau kita buka 10 kuota, yang daftar bisa sampai 30 orang, sisanya kita berdayakan sebagai tenaga kerja lain dan hal ini bentuk komitmen bersama menjaga hutan dari kebakaran,” katanya.
Pewarta: Melli Andani/Nanang MairiadiEditor : Nanang Mairiadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026