Kota Jambi (ANTARA) - Kasus penyakit campak di Provinsi Jambi terjadi peningkatan dalam beberapa bulan terakhir, buktinya hingga April 2026 sudah sebanyak 20 pasien yang sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher provinsi itu.
Wakil Direktur (Wadir) Pelayanan RSUD Raden Mattaher Jambi Anton Trihartanto di Jambi, Selasa, mengatakan jumlah pasien itu sejak Januari hingga April 2026 cenderung meningkat, yang merupakan rujukan dari sejumlah kabupaten/kota di provinsi itu.
Ia merinci perkembangan pasien kasus penyakit campak sejak Januari 2026 tercatat tiga kasus, kemudian naik menjadi empat kasus di Februari, dan pada Maret bertambah lagi tujuh pasien, bahkan di awal April ini ada sekitar sembilan pasien yang sedang ditangani.
Sebagian besar pasien merupakan rujukan dari sejumlah RSUD di sekitar Kota Jambi, seperti Muaro Jambi, Batang Hari, Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat) dan Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur).
Sebagai rumah sakit rujukan provinsi, kata dia, RSUD Raden Mattaher telah menyiapkan satu ruang (Bangsal) khusus untuk penanganan pasien campak, termasuk ruang isolasi bagi pasien dengan kondisi ringan hingga sedang, serta ruang ICU isolasi untuk pasien dengan kondisi berat yang membutuhkan alat bantu napas.
Anton mengatakan, kasus campak yang ditemukan saat ini didominasi oleh anak-anak, dan kondisi saat ini sebagian besar pasien yang dirawat telah mulai membaik dan dapat dipulangkan untuk menjalani rawat jalan.
Rata-rata pasien campak membutuhkan waktu perawatan sekitar satu hingga dua pekan, tergantung kondisi masing-masing pasien.
Terkait pencegahan, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada dengan mengenali gejala campak sejak dini, seperti demam, batuk, mata merah, dan perubahan (Ruam) warna pada kulit.
Bila ada gejala atau indikasi tersebut, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat, sebagai langkah pencegahan terhadap campak.
Ia juga mengingatkan bahwa campak mudah menular melalui percikan cairan (Droplet), sehingga pasien yang masih dalam kondisi bisa menularkan (Infeksius) berisiko menyebarkan ke orang lain.
"Jangan sampai pasien dibawa keluar rumah saat masih infeksius, karena bisa menularkan ke masyarakat di lingkungan sekitar," tegasnya.
Pewarta: Agus SuprayitnoEditor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026