PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo memutuskan untuk menunda pencarian pendanaan melalui penawaran perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di pasar modal.

Direktur Utama Pelindo, Arif Suhartono menjelaskan bahwa IPO akan dilakukan apabila perusahaan memiliki rencana bisnis atau yang membutuhkan anggaran besar.

"Rencana IPO tahun 2019-2020 itu sebelum merger, tentunya setelah merger banyak perubahan. Rencana besar itu membutuhkan dana yang besar, maka salah satu opsi untuk memperoleh dana adalah IPO," kata Arif Suhartono dalam kegiatan temu media di Jakarta, Kamis.

Arif mengatakan, langkah IPO memang sudah direncanakan setelah Pelindo I-IV digabungkan atau merger.

Namun demikian, setelah merger Pelindo tercatat memiliki anggaran besar yang bersumber dari pendanaan aset Pelindo I-IV yang digabungkan dalam Holding BUMN Pelabuhan.

"Karena ini adalah cara mengumpulkan dana. Alhamdulillah kita mempunyai dana besar dan saat ini kami masih belum mengarah ke sana," ujarnya.

Lebih lanjut Arif mengungkapkan, pada Mei 2021 lalu, masing-masing subholding memiliki rencana go publik di pasar modal. Keempat subholding ini adalah petikemas, non-petikemas, marine equipment, dan logistik.

Di lain sisi, sebelum merger Arif menunda rencana penawaran umum perdana dua anak usahanya lantaran saat ini kondisi pasar modal belum stabil. Kedua anak usahanya yaitu PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP) dan PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK).

"Kondisi market tidak begitu menggembirakan saat ini karena adanya pandemi, jadi kami putuskan untuk menundanya" katanya.

Kendati demikian, Arif menyampaikan bahwa perseroan akan kembali melakukan revisi terkait rencana strategis tersebut.

Ia menambahkan, penundaan IPO ini dilakukan sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.

"Karena situasi belum stabil kami putuskan untuk IPO kami tunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan," pungkas Arif.
 

Pewarta: Adimas Raditya Fahky P

Editor : Ariyadi


COPYRIGHT © ANTARA News Jambi 2022