.....Ratib Tegak tidak pernah lagi dilakukan warga sejak 10 hingga 15 tahun terakhir.....
Jambi (ANTARA Jambi) - Koordinator tim pendataan tradisi Kabupaten Sarolangun dan Merangin dari Taman Budaya Jambi mengatakan, timnya menemukan, "Ratib Tegak" salah satu  seni tradisi masyarakat Merangin kini telah hilang atau punah akibat tergerus modernisasi.

"Salah satu temuan kita yang cukup memiriskan hati adalah tradisi Ratib Tegak milik masyarakat Merangin secara turun temurun sejak awal masuknya Islam ke daerah tersebut, kinki sudah hilang atau sudah tidak lagi dilakukan warga," kata koordinator tim pendataan Taman Budaya Jambi Azhar MJ, di Jambi, Rabu.

Petugas yang juga seniman tradisi Jambi ini menjelaskan, punahnya tradisi tersebut dari kehidupan masyarakat adalah dampak nyata dari budaya modernisasi yang kini sudah masuk ke perikehidupan masyarakat.

Salah satu yang paling mempengaruhinya adalah model arsitektur modern yang kini sudah menjadi ciri rumah-rumah warga dan bangunan-bangunan publik seperti masjid di desa-desa di Kabupaten Merangin.

Sebab, seni tradisi Ratib Tegak tersebut memiliki koherelasi yang sangat erat dengan model arsitektur bangunan, dimana untuk memainkan tradisi tersebut diperlukan rumah-rumah panggung berlantai papan.

Dengan lantai papan itulah irama dan nuansa musik Ratib Tegak yang sebenarnya berupa kegiatan tahlilan bagi umat Islam itu, muncul dan dimunculkan sehingga selain dinikmati oleh para pe-ratib juga bisa dinikmati oleh warga yang menonton atau menyaksikan kegiatan tersebut.

Menurut warga setempat, kegiatan tradisi Ratib Tegak ini tidak pernah lagi dilakukan warga sejak 10 hingga 15 tahun belakangan seiring dengan terus bergantinya bangunan masjid dari model arsitektur tradisional berupa rumah panggung menjadi masjid yang berlantai semen dan marmer seperti saat ini.

Ratib Tegak sendiri menurut Azhar adalah kegiatan tahlilan tradisional masyarakat Merangin diikuti oleh para pria hingga puluhan bahkan bisa ratusan orang, yang ketika melakukannya sampai menggunakan hentakan-hentakan kaki di lantai papan masjid.

Azhar menilai sebenarnya tradisi itu masih bisa dilakukan warga di masa kini dengan membuat lantai khusus di pentas, namun masyarakat bersikeras mereka tetap tak bisa menemukan nuansa dan suasana yang maksimal sebagaimana ketika mereka melakukan Ratib Tegak di lantai masjid atau di lantai papan rumah adat.
(T.KR-BS)



Editor : Nurul

COPYRIGHT © ANTARA 2026