......Biso peleh, yang mano bae boleh, tarifnyo idak mahal, hanyo Rp10 ribu, pake sepuasnyo......
"Biso peleh,  yang mano bae  boleh, tarifnyo idak mahal, hanyo Rp10 ribu, pake sepuasnyo," demikian sapaan Ayuk Idah saat sejumlah pengunjung tiba dikompleks   Percandian Muarojambi, siang hari itu.

Dengan logat bahasa daerah (Jambi), Ayuk sapaan kepada kakak perempuan bagi masyarakat Jambi itu menawarkan sepeda kepada pengunjung yang ingin berkeliling situs purbakala kompleks percandian Muarojambi.

Berbagai jenis sepeda, dari untuk anak-anak hingga orang dewasa disediakan un tuk melayani kebutuhan pengunjung berkeliling komplek percandian terluas itu. Dengan modal Rp10 ribu, pengunjung dapat menggunakan sepeda sepuasnya.

Pengunjung tidak diperbolehkan membawa mobil masuk ke kompleks percandian karena dikhawatirkan dapat merusak keaslian kawasan candi dengan luas diperkirakan mencapai 12 hektare itu.

Lahan parkir yang luas disiapkan untuk pengunjung yang membawa mobil, kemudian berjalan kaki sekitar 300 meter atau menyewa sepeda di pintu gerbang untuk mencapai komplek percandian Muarojambi.

jika enggan menyewa sepeda atau berjalan kaki, pengunjung dapat menyewa jasa becak sepeda hanya dengan membayar ongkos senilai Rp10.000 untuk sekali angkut dari tempat parkir ke kompleks candi.

Setiap pengunjung dikenakan tiket masuk Rp3.000 per orang yang dewasa dan Rp2.000 anak-anak  berwisata keliling komplek percandian di Desa Muarojambi atau berjarak sekitar 26 kilometer dari Kota Jambi.

Kawasan percandian tersebut memiliki 82 reruntuhan bangunan kuno dimana delapan diantaranya telah dibuka dan dilakukan pelestarian secara intensif.

Sementara di dalam kompleks Percandian Muarojambi, juga terdapat sejumlah pedagang kecil yang menjual aneka makanan dan minuman ringan. Dengan membentangkan tikar, pengunjung bisa bersantai di bawah pohon-pohon rindang sambil menikmati aneka kuliner rakyat.
        
Rimbunan pohon berbagai jenis dengan ukuran besar seperti batang durian seakan-akan menyelimuti kompleks Percandian Muarojambi yang mengesankan kesejukan udara yang masih alami di kawasan tersebut.

Candi Muarojambi yang  diperkirakan didirikan  pada  abad ke -11 Masehi itu merupakan kompleks percandian  terbesar dan terawat di pulau Sumatera.

Kompleks percandian Muarojambi itu telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi situs warisan dunia.

Rekreasi keluarga

Tidak hanya lokasi rekreasi bagi keluarga, tapi komplek Percandian Muarojambi juga sering dijadikan sebagai lokasi  perpisahan anak-anak sekolah di Kota Jambi.
         
"Objek wisata Candi ini sudah lama kami jadikan sebagai tempat rekreasi dan perpisahan sekolah. Lokasinya nyaman bagi anak-anak bermain," kata guru SD Sungai Gelam Jambi, Muna.

Dia mengatakan, kegiatan perpisahan dengan murid kelas VI di kompleks objek wisata sejarah itu memang jauh-jauh telah dipersiapkan, dan pesertanya juga ada dari pelajar kelas IV dan V.
        
Di komplek objek wisata situs sejarah itu terdapat belasan candi kuno, diantaranya Candi Gumpung, Candi Cina, Candi Teluk, Candi Astano dan Candi Tinggi.

Sementara itu, pedagang kecil di komplek percandian Muarojambi, Fitri menjelaskan, dalam beberapa pekan terakhir banyak anak sekolah yang datang ke sini.
         
"Tapi yang paling ramai pada hari-hari libur, seperti hari minggu. Alhamdulillah, pada hari-hari libur ini omset kami lumayan untuk menutupi kebutuhan hari-hari rumah tangga," ucapnya.

Dia menjelaskan, kunjungan paling ramai yakni pada setiap digelarnya kegiatan festival candi. Saat itu, pengunjung bisa ribuan orang.
       
Kompleks Candi Muarojambi itu telah ditetapkan sebagai kawasan wisata sejarah terpadu yang ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 22 September 2011.

Sementara itu, Fina, warga yang lainnya berjualan di kompleks percandian Muaraojambi, menjelaskan objek wisata ini ramai saat akhir pekan, dan hari libur lainnya.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Muarojambi  Nur Subiantoro  tujuan diadakannya Festival Candi Muarojambi itu adalah untuk mempromosikan objek wisata Candi Muarojambi sebagai Wisata Sejarah
Terpada (WST).

Festival juga bertujuan meningkatkan kunjungan wisatawan baik domestik  maupun mancanegara. Festival juga sebagai ajang melestarikan, menumbuhkembangkan serta ajang berkompetisi kreatifitas seni budaya lokal sebagai
bentuk keanekaragaman bangsa Indonesia.

"Pada tahun 2014, kunjungan wisatawan domestik mencapai 76.984 orang di tambah wisatawan mancanegara sebanyak 160 orang. Dan selama tahun 2015 kunjungan wisatawan mencanegara sudah 30 orang," katanya.

Dia menambahkan, setiap kabupaten/kota di Jambi juga menampilkan tarian khas daerah masing-masing, penampilan itu sekaligus mengenalkan tarian lokal daerah masing-masing kepada pengunjung candi khususnya.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten Muarojambi memperkirakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Muarojambi mengalami peningkatan setiap tahunnya.

"Kami memperkirakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Muarojambi terus meningkat setiap tahunnya," kata Nur Subiantoro menjelaskan.

Disebutkan pada tahun 2014, jumlah wisatawan mencapai 76 ribu orang, atau mengalami kenaikan 20 ribu wisatawan dari tahun 2013. Sedangkan jumlah wisatawan asing tahun 2014 sebanyak 160 orang juga mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya.
        
"Kunjungan paling ramai yakni pada hari libur. Ramainya pengunjung pada hari libur itu dilihat dari jumlah penjualan tiket masuk," katanya menjelaskan.

Festival Candi Muarajambi dilaksanakan di situs candi yang mencakup lahan di tujuh wilayah desa seperti Desa Dusun Baru, Danau Lamo, Muarojambi, Kemingking Luar, Kemingking Dalam, Teluk Jambu dan Dusun Mudo.
          
Meskipun belum sepopuler candi lain di Pulau Jawa, situs purbakala yang diyakini juga sebagai salah satu pusat pengembangan agama Budha di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya ini merupakan aset yang dapat dimanfaatkan dibidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, sosial, agama, dan ekonomi.

Situs purbakala ini membentang dari barat ke timur di tepian Sungai Batanghari sepanjang 7,5 kilometer.Kompleks percandian ini dapat ditempuh melalui darat dan sungai dari Kota Jambi.

Candi-candi yang sudah dibangun dan bisa dikunjungi wisatawan diantaranya Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2 dan kolam Talaga Rajo.
         
Festival ke XII yang sudah menjadi agenda tahunan itu juga sebagai media promosi Candi Muarojambi di tingkat nasional maupun internasional, kata  Nur Subiantoro.

"Tujuan festival adalah mengenalkan kearifan lokal, selain jugaberupaya meningkatkan jumlah wisatawan nusantara dan asing untuk berkunjung ke Kabupaten Muarojambi," kata dia menjelaskan. (Ant)

Pewarta: Azhari
: Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026