Jambi (ANTARA) - Dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Provinsi Jambi menunjukkan kinerja yang relatif stabil di tengah ketidakpastian ekonomi nasional dan global. Pertumbuhan ekonomi Jambi berada pada kisaran menengah, tidak mengalami kontraksi, namun juga belum mampu melompat ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Pada 2024, ekonomi Jambi tumbuh di kisaran 4,5 persen, sementara pada 2025 tren pertumbuhan masih bergerak di rentang 4 hingga 5 persen. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berjalan normal, didukung oleh konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, serta ekspor komoditas unggulan.
Berikutnya Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jambi juga terus menunjukkan peningkatan yang mencerminkan bertambahnya skala ekonomi daerah, di mana pada 2024 PDRB atas dasar harga berlaku telah mencapai sekitar Rp322,98 triliun, naik signifikan dibandingkan Rp293,73 triliun pada 2023 dan Rp276,32 triliun pada 2022. Peningkatan ini juga tercermin pada PDRB per kapita yang secara nominal berada di atas rata-rata nasional, menandakan adanya potensi ekonomi yang cukup kuat dan basis pendapatan regional yang relatif baik.
Namun demikian, peningkatan skala ekonomi tersebut belum sepenuhnya diiringi oleh lonjakan produktivitas yang bersifat struktural, karena komposisi ekonomi Jambi masih didominasi oleh sektor-sektor konvensional berbasis sumber daya alam. Data struktur PDRB menunjukkan bahwa sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan menyumbang lebih dari sepertiga total PDRB, yakni sekitar 33 persen pada 2024, sementara sektor pertambangan dan penggalian masih memberikan kontribusi dua digit meskipun cenderung menurun mengikuti siklus komoditas.
Sebaliknya, kontribusi sektor industri pengolahan masih relatif kecil dan stagnan, berada di kisaran 9–10 persen, sedangkan sektor jasa bernilai tambah tinggi seperti informasi dan komunikasi, jasa keuangan, serta jasa perusahaan masing-masing hanya menyumbang porsi terbatas terhadap total PDRB. Struktur ini menegaskan bahwa meskipun PDRB dan PDRB per kapita Jambi terus meningkat, fondasi pertumbuhan ekonomi daerah masih bertumpu pada sektor primer, sehingga peningkatan nilai tambah, inovasi, dan produktivitas jangka panjang belum berkembang optimal.
Stabilitas inflasi yang relatif terjaga dalam beberapa tahun terakhir turut memberikan ruang bagi daya beli masyarakat untuk tetap tumbuh. Namun stabilitas ini juga mencerminkan bahwa dorongan permintaan domestik belum cukup kuat untuk menciptakan akselerasi ekonomi yang signifikan. Dengan kata lain, ekonomi Jambi tumbuh, tetapi masih berada dalam jalur pertumbuhan alami tanpa transformasi struktural yang berarti.
Ketergantungan Sektor Hulu
Tantangan paling mendasar dalam pertumbuhan ekonomi Jambi terletak pada struktur ekonominya yang masih sangat bergantung pada sektor hulu. Komoditas seperti kelapa sawit, karet, hasil hutan, serta produk pertambangan menjadi penyumbang utama aktivitas ekonomi dan ekspor. Ketergantungan ini menciptakan dua konsekuensi utama. Pertama, perekonomian daerah menjadi sangat sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas global. Ketika harga internasional turun, dampaknya langsung terasa pada pendapatan daerah, kesejahteraan petani, serta penerimaan fiskal.
Kedua, dominasi sektor hulu menyebabkan nilai tambah ekonomi yang dinikmati daerah relatif kecil. Sebagian besar komoditas unggulan Jambi diekspor dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi. Proses pengolahan lanjutan justru terjadi di provinsi lain atau bahkan di luar negeri. Akibatnya, lapangan kerja yang tercipta di dalam daerah cenderung berproduktivitas rendah dan berupah terbatas, sementara keuntungan terbesar dinikmati di luar Jambi.
Dalam jangka panjang, struktur ekonomi seperti ini berisiko menahan laju peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi memang tetap terjadi, tetapi tidak cukup kuat untuk mendorong lompatan pendapatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan kelas menengah secara berkelanjutan. Inilah yang menjadi kekhawatiran utama dalam proyeksi ekonomi Jambi ke depan, sebagaimana disoroti dalam berbagai kajian dan pemberitaan.
Hambatan Infrastruktur Strategis
Ketiadaan pelabuhan samudera dan kawasan industri hilir menjadi faktor krusial yang membatasi prospek ekonomi Jambi dalam 20 tahun ke depan. Tanpa infrastruktur logistik berskala besar, posisi Jambi dalam rantai nilai nasional dan global akan terus berada di level pemasok bahan baku. Biaya logistik yang tinggi akibat ketergantungan pada pelabuhan di luar provinsi menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha, sekaligus menurunkan daya saing produk Jambi di pasar internasional.
Meskipun nilai ekspor Jambi menunjukkan surplus yang konsisten, fakta bahwa sebagian besar ekspor tersebut harus melalui pelabuhan provinsi lain mengindikasikan adanya kebocoran nilai ekonomi. Aktivitas logistik, jasa pelabuhan, dan industri pendukung yang seharusnya dapat berkembang di Jambi justru dinikmati oleh daerah lain. Dalam jangka panjang, kondisi ini tidak hanya menghambat pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperlemah posisi fiskal dan investasi daerah.
Ketiadaan kawasan industri hilir memperparah kondisi tersebut. Tanpa kawasan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan dan infrastruktur energi, investor cenderung memilih lokasi lain yang lebih siap. Akibatnya, Jambi sulit menarik investasi manufaktur berskala besar yang mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas ekonomi. Proyek-proyek strategis seperti pelabuhan samudera yang sempat direncanakan belum menunjukkan kemajuan signifikan, sehingga peluang emas untuk melakukan lompatan struktural terus tertunda.
Jika kondisi ini dibiarkan, proyeksi ekonomi Jambi dalam dua dekade ke depan berpotensi menghadapi risiko stagnasi relatif. Pertumbuhan mungkin tetap berada di kisaran menengah, tetapi tidak cukup tinggi untuk mengejar ketertinggalan dari provinsi lain yang lebih agresif membangun infrastruktur dan industri hilir.
Peluang Transformasi Ekonomi
Di balik tantangan tersebut, Provinsi Jambi sebenarnya memiliki peluang besar untuk melakukan transformasi ekonomi. Letak geografis yang strategis di jalur perdagangan Sumatra bagian timur, kekayaan sumber daya alam, serta basis produksi komoditas yang kuat merupakan modal awal yang sangat berharga. Dengan kebijakan yang tepat, Jambi dapat mengubah posisi dari sekadar daerah hulu menjadi pusat pengolahan dan distribusi regional.
Hilirisasi industri menjadi kunci utama dalam strategi ini. Pengembangan industri pengolahan kelapa sawit, karet, dan produk agroindustri lainnya dapat meningkatkan nilai tambah secara signifikan. Industri hilir tidak hanya menciptakan lapangan kerja lebih banyak, tetapi juga memperluas basis pajak dan meningkatkan pendapatan daerah. Dalam jangka menengah, penguatan sektor ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Jambi ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih berkualitas.
Pembangunan pelabuhan samudera dan kawasan industri terintegrasi akan menjadi katalis utama perubahan tersebut. Infrastruktur ini akan menurunkan biaya logistik, meningkatkan efisiensi perdagangan, dan menarik investasi domestik maupun asing. Jika dikombinasikan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kemudahan perizinan, Jambi berpotensi menjadi simpul ekonomi baru di Sumatra.
Selain itu, diversifikasi ekonomi ke sektor jasa modern, ekonomi digital, dan pariwisata berbasis alam juga membuka peluang baru. Dengan peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan yang tercermin dari kenaikan indeks pembangunan manusia, Jambi memiliki modal sosial yang cukup untuk memasuki sektor-sektor ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.
Editor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026