.....Dalam masyarakat penganut budaya patriarki yang konservatif, untuk urusan seksual, perempuan biasanya hanya bisa menerima dan pasrah.....
Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS

Jambi (ANTARA Jambi) - Infeksi Menular Seksual (IMS) HIV/AIDS telah menjadi momok yang menakutkan. Terlebih mungkin bagi sebagian masyarakat di kota-kota besar dunia yang memiliki kegiatan seksual yang beresiko tinggi. 

Asumsi awal penularan virus mematikan ini adalah melalui hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti. Namun dalam perkembangannya, HIV juga menulari manusia melalui transfusi darah dengan menggunakan jarum suntik yang tidak steril. 

Bahkan yang lebih menyedihkan, bayi-bayi yang dilahirkan dan disusui oleh ibu-ibu yang terindikasi sebagai ODHA (orang dengan HIV/AIDS) sangat potensial tertular penyakit ini. 

Berdasarkan penelitian, dari 10 orang ibu dengan HIV positif yang melahirkan, tiga diantaranya telah menularkan “penyakit turunan” ini kepada bayi mereka. Artinya, kemungkinan bayi tertular penyakit ini oleh ibu mereka adalah sebanyak 30% dari kasus penularan virus ini secara umum. 

Sementara, penularan melalui jarum suntik ditemukan sebanyak 5-10%. Kasus ini ditemukan pada para pemakai narkotika, terutama yang menggunakan jarum suntik sebagai mediumnya. Sedangkan penularan melalui transfusi darah dari orang yang positif terinfeksi ke orang yang sehat ditemukan sebanyak 3-5%. 

Jadi kemungkinan terbesar penularan virus yang menyerang sistem immunitas tubuh ini adalah tetap pada hubungan seksual; yakni percampuran cairan sperma dan cairan vagina ketika bersenggama—penetrasi penis ke dalam lubang vagina. 

Dalam proses penularan secara seksual, virus HIV membonceng cairan sperma atau vagina sebagai kendaraannya. Prilaku seksual dengan aktivitas promiskuitas—budaya free sex dengan berganti-ganti pasangan. Promiskuitas dalam hal ini bukan berarti pasangan pranikah saja, melainkan juga suami-istri. Baik pelaku poligami maupun poliandri. 

Seseorang yang melakukan poligami atau poliandri sebanyak sepuluh kali dalam hidupnya, bisa jadi terinfeksi HIV. Jika demikian, orang tersebut dapat dipastikan tertular dari pasangan seksualnya—sangat rentang terjangkiti. Selain promiskuitas, prilaku seksual secara transparan—hubungan seksual tanpa pelindung, atau persentuhan langsung kulit penis dan vagina juga mempunyai peranan yang besar untuk masuknya virus jenis HIV ini ke dalam tubuh manusia. Karena transparan dan tanpa sekat atau pelindung apa pun, vagina dan penis yang bersentuhan langsung akan memudahkan virus berpenetrasi ke dalam tubuh melalui cairan sperma dan cairan vagina.

Peranti lunak sebagai pengaman 

Setelah diketahui bahwa hubungan seksual secara promiskuitas dan transparan memberikan kontribusi yang besar bagi penularan penyakit menular seksual, maka berbondong-bondonglah orang memakai pelindung bagi alat reproduksi mereka selama berhubungan seks. “Peranti lunak” sebagai pelindung dan pencegah yang terkenal kemudian adalah kondom. 

Pembungkus alat vital ini pada awalnya ditujukan bagi kaum pria. Tujuan pemakaiannya pun hanya untuk mencegah penularan penyakit seksual—sifilis—dan lainnya. Dalam perkembangannya, kondom memiliki fungsi ganda, selain sebagai alat untuk mencegah dari penularan virus, seperti HIV, kondom juga digunakan sebagai alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya kehamilan bagi perempuan—meski tingkat kegagalannya berkisar 20%, namun kondom pria tetap disarankan bagi suami-istri, karena diakui efektif, ketimbang alat kontrasepsi dan obat pencegah kehamilan yang lain. 

Meski pemakaian kondom secara luas baru terjadi sekira 1930-an, alat ini sebenarnya memiliki sejarah yang panjang. Setidaknya 10 abad Sebelum Masehi, bangsa-bangsa Mesir kuno telah mengenal kondom. Sedangkan di Eropa, kondom mulai dikenal pada tahun 100 sampai 200 Masehi. Hal ini diketahui dari lukisan-lukisan pada dinding gua di Combrelles, Prancis. 

Saat itu kondom dibuat dari linen. Dan kemudian tahun 1700-an, kondom dibuat dari usus binatang. Akhirnya pada 1894, Goodyear dan Hancock mulai memproduksi kondom secara massal yang terbuat dari karet yang divulkanisasikan dengan membalikkan karet kasar ke elastisitas yang kuat. Baru pada 1880 kondom diciptakan dengan bahan yang terbuat dari lateks.

Kepopuleran penggunaan kondom sebagai pengaman mengalami pasang-surut yang panjang. Ketakutan akan penyakit menular seksual pasca-Perang Dunia II menurun, seiring terjadinya revolusi perilaku seksual di Eropa dan negara-negara industri lainnya. Isu-isu kesetaraan gender atau feminisme oleh perempuan di Amerika, juga meliputi perilaku seksual antara laki-laki dan perempuan. 

Dalam masa ini, perempuan mulai menuntut hak mereka untuk diberikan rasa aman dalam berhubungan seks. Dan kemudian tuntutan itu sedikitnya telah mengubah paradigma laki-laki di Amerika untuk berhubungan seksual hanya dengan satu pasangan/istri saja.  Hal ini diyakini jauh lebih bersih dan aman dari berbagai penularan penyakit akibat hubungan seks. Fenomena ini ternyata berpengaruh terhadap industri alat pengaman ini. Sebab, angka penjualan kondom laki-laki semakin menurun.

Kondisi ini berubah seketika setelah wacana HIV/AIDS merebak ke penjuru dunia. Para dokter di Amerika saat itu—bahkan sampai hari ini—kewalahan menemukan obat bagi penderita AIDS. Dan akhirnya disimpulkan bahwa virus ini hanya bisa dicegah seminimal mungkin hanya dengan menggunakan kondom ketika berhubungan seksual. Tak ayal, penjualan kondom kembali merangkak naik.

Namun kesadaran signifikan untuk menggunakan pengaman ini tidak serta-merta terjadi di kota-kota di negara berkembang, seperti Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Wacana penggunaan kondom sebagi alat pencegah penyakit yang ditulari oleh virus HIV ini tidak populer, sebab banyak mitos yang menyertainya. Selain berkurangnya rasa nikmat akibat gesekan yang tidak langsung antara kulit penis dengan vagina, merasa tidak nyaman, dan takut bocor, alasan etika juga memperlemah sosialisasi penggunaan kondom dalam masyarakat. 

Berbagai cara digunakan untuk menarik minat konsumen agar menggunakan kondom. Selain diproduksi dari bahan baru bernama polyurethane yang diakui secara medis lembut, fleksibel, dan tidak terpengaruh dengan perubahan suhu dan kelembaban, kondom juga diproduksi dengan desain dan rasa, warna dan aroma yang beragam. Bahkan dewasa ini kita dapat menemui kondom dengan aroma dan warna buah-buahan, seperti lemon, stroberi atau bahkan durian. 

Selain diproduksi secara massal, kampanye pengunaan kondom juga dilakukan secara besar-besaran di berbagai negara. Demi menepis stigma, berbagai seminar, diskusi dan acara-acara lainnya terus dilakukan, termasuk dengan membagi-bagikan kondom secara gratis kepada masyarakat oleh aktivis-aktivis kesehatan. 

Meski kemudian perdebatan tentang kelayakan metode itu menjadi polemik yang cukup panjang, kesadaran penggunaan kondom terutama bagi laki-laki, ternyata masih sangat rendah sekali. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menyebutkan fakta penggunaan kondom laki-laki di Indonesia masih sangat rendah. Hanya 0,9 persen pasangan usia subur yang memilih kondom sebagai alat kontrasepsi dan vasektomi 0,4 persen dari total pasangan usia subur. Namun, berdasarkan keterangan DKT Indonesia, dalam kampanye Pekan Kondom Nasional 2012 beberapa waktu lalu, mereka mengklaim telah berhasil menjual pengaman ini sebanyak 1 milyar kondom di Indonesia sejak tahun 1996. 

Budaya dan diskriminasi perempuan

Dalam masyarakat tradisional dan penganut budaya patriarki yang konservatif, untuk urusan seksual dan bersenggama, memakai atau tidak alat kontrasepsi, mempunyai momongan atau tidak, biasanya ditentukan oleh laki-laki. Perempuan dalam hal ini hanya bisa menerima dan pasrah. 

Dalam masyarakat seperti itu, tidak lumrah seorang perempuan meminta pasangannya untuk menggunakan kondom sebelum bersenggama. Ironisnya perempuan seperti ini akan di cap sebagai perempuan tidak bermoral. Karena derajat mereka dianggap sama dengan pelacur yang melayani langganannya. Padahal dalam urusan demikian, perempuan seharusnya juga memiliki hak yang sama. Hak untuk merasa aman—dilindungi—dan nyaman.

Dilema perempuan ini juga melanda para pekerja seks komersial terutama di lokalisasi dan tempat-tempat transaksi syahwat lainnya. Bagi para perempuan pekerja seks komersial (PSK), berhadapan dengan pelanggan yang “sok bersih” menjadi situasi yang sangat pelik. Sungguh dilematis, di satu sisi mereka mesti melayani hasrat pelanggan dengan risiko terinfeksi HIV/AIDS/IMS lainnya. Di sisi yang lain mereka juga menghendaki rasa aman dari berbagai penyakit itu. 

Tapi untuk meminta para pelanggan mereka agar memakai kondom terasa sangat sulit, sebab bisa jadi akan ditolak karena tersinggung sebab merasa "bersih”, dan bisa jadi laki-laki hidung belang itu akan pindah ke lokalisasi lain. Meskipun fakta-fakta menunjukkan bahwa risiko penularan penyakit seksual di tempat-tempat seperti lokalisasi atau lainnya sangat tinggi, namun kesadaran untuk menggunakan “pengaman” masih sangat rendah. Terutama laki-laki. Padahal tanpa mereka sadari, tempat-tempat inilah yang diyakini berpotensi besar terjadi penularan PMS seperti HIV/AIDS. 

Terlepas dari doktrin-doktrin sosial atau dogma agama yang mengajarkan prilaku sehat dalam berhubungan, artinya hanya setia kepada satu pasangan saja, jumlah penderita yang disebabkan virus ini justru semakin meningkat setiap tahunnya. Alih-alih berkurang, penularan penyakit ini sudah sedemikian melaju menyerang jantung rumah tangga yang “harmonis” sekalipun. 

Individu yang tak berdosa, dalam hal ini adalah orang yang setia pada satu pasangan, ataupun bayi dan balita niscaya dapat menjadi korban. Penularan ini sangat dimungkinkan, terutama bagi pasangan yang salah satunya suka “jajan” di luar. Seorang istri atau suami yang memiliki pasangan yang hobi "jajan" di luar atau selingkuh, kemungkinan juga dapat menularkan kepada suami atau istrinya di rumah melalui hubungan seks. Dan kemudian menularkannya kepada anak-anak mereka. 

Ironisnya, pengindap HIV positif tidak dapat diketahui dari ciri-ciri fisiknya pada 2-4 bulan pertama. Bahkan nyaris tak ada gejala yang dapat menunjukkan bahwa seseorang itu terinfeksi HIV positif, meski dilakukan tes darah sekalipun. Setidaknya perlu waktu 5-10 tahun untuk mendeteksi bahwa orang tersebut terjangkit virus mematikan ini.

Jika tidak dia, mengapa bukan kita

Kondom perempuan kemudian hadir sebagai sebuah alternatif untuk melindungi, khususnya kaum perempuan dan anak-anak mereka. Kondom perempuan atau femidom, barangkali masih asing bagi sebagian besar masyarakat kita, atau bahkan mungkin bagi kaum perempuan itu sendiri. Kendati diluncurkan pertama kali pada tahun 1992, tingkat penggunaan kondom perempuan masih terbilang rendah. Kondom perempuan ini telah lebih dulu populer di berbagai negara seperti Brasil, Uganda, Zimbabwe dan Thailand, yang diduga berisiko tinggi terjadi penyebaran infeksi saluran reproduksi/infeksi menular seksual (ISR/IMS). 

Kurang populernya femidom di Indonesia, mungkin masih dapat diwajarkan, mengingat desain femidom yang kurang "manis"—atau juga terlalu sulit menggunakannya—serta harga yang jauh lebih mahal dibanding kondom pria, sehingga para perempuan enggan membeli dan menggunakan kondom bagi diri mereka. 

Tapi apakah sebenarnya femidom itu? Dan apa yang menjadi pertimbangan para medis serta produsen untuk meluncurkan kondom perempuan itu?  Femidom adalah sejenis pelindung yang fungsinya sama dengan kondom pria. Namun berbeda dengan kondom pria dalam hal kontrol pemakaian, penggunaan femidom murni dikontrol oleh perempuan itu sendiri (female control method). 

Bentuknya didesain mengikuti bentuk vagina dan dibuat seelastis mungkin, sehingga femidom bebas bergerak di dalam vagina. Karena dikontrol sepenuhnya oleh perempuan, femidom dapat dipakai sebelum berhubungan seksual tanpa memerlukan ereksi penis. 

Karena menyesuaikan dengan bentuk vagina, desain femidom juga menyerupai silinder. Ada dua cincin di atas dan di alas. Bedanya, cincin bagian atas femidom terbuka, sedangkan bagian alas tertutup. Bagian alas sebagai dasar penis, bagian atas sebagai kerangka yang menjaga posisi femidom tetap melekat pada sisi tepi vagina. 

Berbeda dengan kondom laki-laki yang harus segera dicabut setelah ejakulasi, femidom tidak perlu dikeluarkan segera. Tetapi untuk menjaga agar cairan sperma—yang tertampung di dalam femidom—tidak tumpah, disarankan pada saat berhubungan, posisi perempuan di bawah. 

Keistimewaan lainnya adalah femidom terbuat dari bahan polyurethane sehingga aman dan awet karena tidak terpengaruh oleh perubahan suhu dan kelembaban. Tetapi penggunaannya masih disarankan untuk sekali pakai—sama halnya dengan kondom laki-laki. Femidom juga dilengkapi lubrikasi. Spersimida pada femidom berbahan dasar air dan minyak—kondom laki-laki hanya berbahan dasar air—dimasukkan ke dalam femidom sebelum berhubungan. Tujuannya adalah menjaga kelembaban femidom dan menghindari suara berisik yang bisa timbul akibat gesekan yang terjadi antara penis dan vagina. 

Pekan Kondom Nasional (Strategi sosialisasi femidom)

Melihat sulitnya sosialisasi penggunaan kondom, dan tingkat kesadaran laki-laki yang masih sangat rendah untuk menjamin diri dan keluarganya dari penularan virus HIV, maka tidak menutup kemungkinan pula sosialisasi penggunaan femidom ini di kalangan perempuan akan mengalami persoalan serupa.

Untuk itu dibutuhkan strategi sosialisasi ke masyarakat. Bagaimana bentuk sosialisasinya secara konkret?Banyak hal yang dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga yang peduli terhadap serangan virus ini. Di antaranya dengan mengadakan seminar-seminar dan diskusi di kampus-kampus. Memberikan ceramah dan diskusi di majelis-majelis taklim, dan pengajian lainnya. Penayangan iklan (brosur) yang gencar menerangkan bahaya HIV/AIDS, dan keterkaitan negatifnya terhadap keluarga, termasuk anak-anak. Dan dapat juga dijadikan salah satu materi penting dalam Pekan Kondom Nasional, misalnya. Intinya, jika tidak dia (laki-laki), mengapa bukan kita (perempuan) yang menggunakannya?  (Ant)


Pewarta: Oleh Nurul Fahmy
Editor : Nurul

COPYRIGHT © ANTARA 2026