Jakarta (ANTARA) - Menolak dana Belanda
Agen berita Indonesia ini pernah didiskusikan oleh pihak pemerintahan Nederland Indie agar disumbang dana, namun mungkin ditolak oleh pendirinya.
Kehadirannya dimaksudkan untuk membuat perimbangan berita yang sejak 1917 didominasi oleh berita-berita yang hanya menyuarakan kinerja pemerintah Hindia Belanda. Kantor berita itu didirikan pada 1 April 1917 diberi nama Algemeen Nieuws- en Telegraaf-Agentschap disingkat Aneta, atau dalam Bahasa Indonesia, Kantor Berita Umum dan Telegraf, merupakan yang pertama di Hindia Belanda.
Menurut catatan, kantor LKBN Antara di Pasar Baru sekarang adalah gedung bersejarah berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Djuanda, Priyono, pada 4 April 1959. Ini, kabarnya bekas kantor Aneta. Kabinet Juanda berumur dua tahun (9 April 1957-10 Juli 1959).
Antara, kantor berita itu, lebih tua dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Didirikan oleh wartawan hebat dan pejuang, yaitu Adam Malik, Soemanang Soerjowinoto, AM Sipahoetar dan Pandoe Kartawigoena.
Pandoe saat itu berusia 20 tahun diadili karena menulis dan mengeritik pemerintah di Indonesia Moeda Mei 1936. Ia diadili bersama Soeparna bin Sastradiradja, Imam Soetardjo, dan Soepodiono bin Sastrodirdjo. Ini diberitakan dengan judul, “Politikus di Pengadilan,” dapat dibaca dalam, Algemeen Handelsblad, Semarang, edisi 01-02-1937, halaman pertama.
Menyiarkan teks proklamasi
Antara memainkan peran penting ketika Proklamasi dibacakan 17 Agustus 1954. Kantor berita ini menyiarkannya ke seluruh dunia.
Menurut catatan kantor berita ini, “Dari buku Catatan Politik Pengalaman Wartawan ANTARA oleh Ismet Rauf dan Saleh Danny Adam (2002:11) disebutkan rencana penyebarluasan Proklamasi Indonesia ke seluruh dunia dipimpin oleh Adam Malik yang mendiktekan naskah proklamasi dari tempat persembunyiannya karena dikejar-kejar tentara Jepang.
Adam Malik dibantu Pangulu Lubis, satu-satunya orang ANTARA yang diminta bersiap-siap menyebarkan berita Proklamasi dengan mengatakan “bersiap-siap menyiarkan sebuah berita penting”.
Setelah teks Proklamasi dibacakan Soekarno, Adam Malik menelpon ANTARA, diterima oleh Asa Bafagih yang diminta untuk menyampaikannya kepada Pangulu Lubis dengan berpesan “Jangan sampai gagal”.
Pangulu mengirimkan naskah ke bagian radio dengan menyelipkannya dalam morse-cast Domei, di antara berita-berita yang telah dibubuhi izin Hodohan. Markonis Soegirin menjaga agar teks Proklamasi itu tersiar dan Markonis Wua yang mengirimkan. Maka menyebarlah berita Proklamasi Indonesia ke daerah dan internasional.
Sepakbola dan ralat
Antara hadir bukan terus-menerus memburu berita, ada rehatnya juga, setidaknya wartawan kantor itu yang ada di kota lain. Misalnya, ikut pertandingan sepakbola sebagaimana disiarkan Bataviaasch Nieuwsblad, yang terbit di Batavia, pada 26-02-1938, di halaman 2. “Bola Dokter vs. Pengacara untuk Kejuaraan Jawa Barat,” begitu judulnya.
Rupanya juga ada pertandingan kombinasi pengacara/jurnalis lawan dokter. Pendiri Antara ikut main di babak kedua yang dilaksanakan di Bandung, yaitu Soemanang Soerjowinoto.
Antara diharu-biru oleh rakyat, dalam berita Het Nieuws, di halaman 6 edisi 27-12-1939 muncul ralat, "Aneta" menginformasikan kepada kami bahwa telah terjadi kesalahan yang meresahkan dalam notulen rapat umum "Kongres Rakjat Indonesia" mengenai keputusan kongres terkait pers. Sebagai gantinya: "Mengenai pers, 'Kongres Rakjat Indonesia' mendukung lembaga pers lokal "Antara," mohon dibaca: "Mengenai pers, 'Kongres Rakjat Indonesia' mendorong dukungan terhadap pers lokal dan lembaga pers nasional."
Jadi kesalahan menulis berita sudah ada sejak awal, bukan sekarang saja
Ralat itu berkaitan dengan berita laporan dari Kongres Rakyat Indonesia yang dihadiri 3.500 orang. Sebanyak 26 partai telah bergabung dalam kongres tersebut. Dalam kongres dibacakan juga surat dari mahasiswa. Kongres Rakjat Indonesia ini, yang diselenggarakan oleh Federasi Asosiasi Masyarakat Adat (GAPT). Pertemuan besar itu, meratifikasi kantor berita Antara, yang mereka banggakan.
Sekarang, jumlah wartawan dan karyawan kantor berita itu sekitar 1.000 orang. Mereka mengelola unit-unit seperti Direktorat Pemberitaan, Antara TV, Lembaga Pendidikan Jurnalistik (LPJA) dan divisi lain. Lembaganya memiliki dewan pengawas dan direksi.
Jika kantor baru Antara diresmikan 15 Juli 1941, maka sekarang kantornya sebuah heritage, warisan budaya bangsa. Elegan dan foto-fotonya bisa ditemukan dari zaman lampau sampai kini.
Hari ini LKBN Antara menyebar kantor dan wartawannya di seluruh ibukota provinsi dan juga di luar negeri. Para wartawan itu menyebar berita, tulisan foto ke seluruh dunia, tapi mesti berlangganan, jika tidak dari mana biayanya; hehe.
Umumnya, media massa berlangganan berita dan foto Antara setiap bulannya, juga beberapa kantor pemerintah. Teraju Antara sebagai perusahaan umum (Perum) pemerintah adalah BP BUMN dan Presiden. Sebagai aset penting negara, kawan sejalannya RRI dan TVRI. Bersamanya hadir ribuan media pemberitaan. Indonesia memang pentas nan megah.
*) Khairul Jasmi adalah Pemred Harian Singgalang, Padang
