Jambi (ANTARA) - Kegamangan untuk menggarap lahan sawah kini mulai menghilang dari benak petani di pedesaan. Hal tersebut bukan lagi menjadi bayang-bayang yang melelahkan saat musim panen tiba. Bahkan, kondisi saat ini terlihat berbanding terbalik. Muncul semangat penuh optimisme bagi petani termasuk generasi muda yang sudah turun ke sawah sejak beberapa tahun terakhir.
Kekhawatiran petani beberapa dekade silam muncul karena mereka dihadapkan pada mekanisme pasar saat harga Gabah Kering Panen (GKP) atau Gabah Kering Giling (GKG) anjlok ketika panen raya tiba. Kondisi tersebut tak terlepas karena longgarnya kendali dan pengawalan terhadap menjaga harga gabah petani, sehingga memberi ruang bagi tengkulak praktik ijon untuk menekan harga gabah.
Masa lalu biarlah berlalu. Kini dan masa depan, harapan besar petani tertumpu pada keberadaan Bulog yang selalu menjadi "dewa penyelamat" saat musim panen tiba.
Ketua Kelompok Tani Mekar Sari Saepuloh (52), menyampaikan bahwa selama Bulog hadir di tepi sawah ketika musim panen, semangat petani untuk menanam terus terjaga. "Tua-muda turun ke sawah", dan tidak akan membiarkan lahan terlantar.
Keyakinan itu sudah terbukti di Desa Lagan Hulu, salah satu sentra padi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Semangat petani turun ke sawah semakin nyata, termasuk petani muda sudah bermunculan.
Ia menyebutkan dari 25 anggota Kelompok Tani Mekar Sari, hampir 90 persen merupakan petani berusia 25–40 tahun. Begitu pula di kelompok tani lainnya mayoritas petani muda makin banyak terlibat mengolah lahan sawah.
Seorang petani muda di desanya ada yang mengolah lahan seluas dua-tiga hektare per orang, bahkan ada yang lebih. "Anak saya Yusda, yang baru berusia 26 tahun sudah berani mengolah lahan secara mandiri seluas dua hektare. Itu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga nya," tuturnya.
Bahkan, antusias petani muda ketika masuk musim masa tanam bertepatan dengan bulan Ramadhan, mereka malah membajak sawah setelah shalat taraweh. Kalau siang hari cuaca panas dan sedang menjalankan ibadah puasa, tentu tidak memungkinkan untuk menguras tenaga. Maka pilihannya malam hari turun ke sawah sehingga saat siang mereka tidur sembari menjalankan ibadah.
"Banyak petani muda bermunculan sejak tiga tahun terakhir. Petani tua sudah tidak banyak lagi dan memilih digantikan oleh anaknya," ujarnya.
Spirit itu muncul karena manfaat pengelolaan sawah makin dirasakan oleh petani. Benih kian mudah didapat berkat bantuan pemerintah, dan pupuk pun diberikan dengan harga subsidi. Saat panen tiba ada Bulog yang menampung gabah dengan harga cukup baik.
Menyinggung biaya produksi, Saepuloh menyebutkan bisa menghabiskan sekitar Rp7 juta per hektare, mulai dari pengolahan hingga pascapanen.
Selama tidak terkena serangan hama, petani bisa mendapatkan hasil gabah seminimal rata-rata 4.000 kilogram per hektare. Jika pemupukan lebih dimaksimalkan, maka hasil lahan bisa mencapai 5.000 kg hingga 6.000 kg per hektare.
Melalui kerja sama kelompok tani Mekar Sari dengan Bulog Jambi, harga gabah di tingkat petani dinilai Rp6.500/kg untuk kualitas bagus. Apabila dikalkulasikan dengan mengambil hasil panen terendah, misalnya 4 ton per hektare, maka hasilnya mencapai Rp19,5 juta/hektare.
Setelah dikeluarkan biaya produksi petani bisa mendapatkan untung sekitar Rp12,5 juta untuk periode empat bulan. Pendapatan itu diperoleh untuk sekali masa panen. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir, petani sudah menjalankan anjuran pemerintah dengan periode tanam dua kali setahun.
"Alhamdulillah, lelah petani terbayar ketika musim panen tiba. Harga gabah terjaga diposisi cukup baik. Apalagi kalau kerja sama dengan Bulog, proses pembayaran cepat," ujar Polo sapaan akrab Saepuloh saat ditemui di rumahnya.
Prosesnya selama ini cukup mudah. Setelah panen, petani memasukkan padi ke karung dan menimbangnya, lalu ditaruh di tempat yang disepakati sebelum diangkut oleh pihak Bulog. Setelah itu, petani mengirimkan dokumen seperti KTP dan catatan berat gabah. Sepekan kemudian, uang pembelian gabah sudah masuk ke rekening. Kalau jual ke pedagang pengumpul atau tengkulak baru membayar satu bulan setelah gabah diangkut
Polo mengungkapkan bahwa sejumlah kelompok tani di desanya sudah bekerja sama dengan Bulog untuk penyerapan gabah sejak tiga kali masa panen terakhir. Selama itu pula, tidak ada lagi pedagang pengumpul atau praktik ijon yang masuk menampung gabah petani di wilayahnya.
Pokoknya banyak kemudahan, tinggal kini kemauan petani dalam pemanfaatan lahan yang ada. Kalau di Desa Lagan Hulu ini ratusan lahan digarap semua dan tak ada yang terlantar. Petani pada semangat, baik tua maupun yang muda, karena harga gabah cukup baik.
Regulasi dan Kolaborasi
Mewujudkan swasembada pangan nasional, terutama padi dan jagung, kini sudah menjadi kenyataan. Secara statistik, capaian tersebut diperoleh lebih cepat daripada target yang ditetapkan.
Dalam mencapai Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto, keberhasilan ini tidak lepas dari intervensi strategis di bagian hulu. Pemerintah menghadirkan regulasi yang menjadi landasan yuridis untuk memberi ruang gerak bagi para pemangku kepentingan. Institusi yang terlibat mulai dari kementerian/lembaga, badan, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, hingga brigade pangan serta masyarakat tani sendiri.
Sebagaimana dirilis oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada 6 April 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah mendekretkan upaya menjaga stok cadangan beras pemerintah (CBP) nasional melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026-2029.
Selama regulasi yang menaungi ini tidak berubah, tagline Perum Bulog pada momentum hari jadi ke-59 yang mengusung tema "Mengawal Pangan Menuju Masa Depan" akan tetap sangat relevan.
Payung hukum Inpres Nomor 4 Tahun 2026 kini menjadi pedoman dan komitmen tegak lurus bagi Bulog di bagian hilir dalam menjalankan penugasan negara, khususnya dalam menjaga serapan gabah di tingkat petani untuk cadangan nasional.
"Kami tegak lurus pada regulasi yang telah ditetapkan pemerintah. Selama harga pangan di atas harga pokok pemerintah atau HPP, petani terbuka untuk melepas produknya ke pasar. Sebaliknya, kalau harga pasar menurun saat petani panen raya, Bulog akan selalu hadir," tutur Pimpinan Wilayah Bulog Kanwil Jambi Wiwin Indratno saat ditemui di Jambi baru-baru ini.
Misalnya harga gabah mencapai Rp6.700 atau Rp6.800 per kg, maka petani dipersilakan dan terbuka menjualnya langsung ke pasar. Kondisi demikian membuat petani yang memiliki lahan 3–5 hektare semakin sejahtera, sekaligus menjadi penyemangat bagi pemuda tani untuk turun ke sawah.
Sebagai bukti sahih harga gabah petani terjaga, sebagaimana dirilis Bapanas mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan rerata harga pembelian gabah sepanjang 2025 tidak pernah berada di bawah Rp6.500 per kg. BPS mencatat harga paling rendah terjadi pada April 2025 dengan rerata Rp6.712 per kg. Sementara itu, rerata harga pembelian gabah selama setahun pada 2025 berada di level Rp7.081 per kg. Angka ini merupakan hasil Survei Harga Produsen Beras di Penggilingan 2025 yang dilaksanakan oleh BPS secara kontinu.
Bagi petani, instrumen HPP gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kg sebenarnya sudah memuaskan karena telah berada pada posisi keekonomian. Berdasarkan pengakuan para petani, mereka sudah meraup untung dalam hitungan investasi setiap kali panen dengan posisi HPP tersebut. Apalagi, jika harga pasar bisa berada di atas HPP.
Menurut Wiwin, instansi terkait di daerah mesti menyosialisasikan pola investasi yang dirasakan oleh para petani itu secara masif agar dapat memicu petani lain untuk lebih optimal dalam mengelola lahan pertanian.
Dalam pelaksanaan di lapangan, Bulog terus menguatkan kolaborasi dengan multipihak seperti di Wilayah Jambi, kerja sama termasuk melibatkan tenaga penyuluh pertanian yang selalu mendampingi petani di desa. Tujuannya adalah agar informasi mengenai waktu panen petani dapat lebih cepat tersampaikan kepada pihak Bulog.
"Kami menggandeng para penyuluh pertanian untuk mendapatkan informasi mengenai lokasi petani yang akan segera panen. Penyuluh inilah yang selalu berinteraksi langsung dengan petani," kata Wiwin sembari menambahkan, jumlah desa ratusan di sentra-sentra utama seperti Tanjung Jabung Barat, Kerinci, Tanjab Timur, Muaro Jambi, Bungo dan lainnya di provinsi itu.
Selain itu, kini kehadiran Bulog dalam penyerapan gabah petani juga memicu dukungan dari pemerintah daerah. Buktinya, beberapa pemerintah daerah rela menghibahkan tanah untuk pendirian gudang Bulog di wilayah mereka. Komitmen itu ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Pemkab Bungo, Jambi. Bahkan, akan ada dua daerah yakni Kabupaten Merangin dan Kerinci dalam proses untuk sertifikat lahan untuk gudang Bulog.
Untuk keberlanjutan pangan berkualitas, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, bahwa Bulog juga bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam mengembangkan teknologi penyimpanan agar beras dapat bertahan lebih dari dua tahun dengan kualitas tetap terjaga baik.
"Nah ini teknologinya akan kita terapkan untuk di gudang-gudang baru yang ada nanti, ada di Morotai dan lain sebagainya seperti itu. Mudah-mudahan nanti gudangnya lebih modern dan lebih baik," ucap Rizal pada pekan pertama Mei 2026.
Sementara itu, mengutip laman media sosial Perum Bulog, Direktur Operasional Perum Bulog Andi Afdal, menyampaikan implementasi Cocoon merupakan metode penyimpanan hermetik yang digunakan Bulog untuk menjaga beras tetap aman, berkualitas, dan ramah lingkungan.
Sistem penyimpanan hermetik, merupakan sistem penyimpanan kedap udara yang menjaga beras tetap terlindungi tanpa adanya pertukaran udara dari luar. Inovasi penyimpanan modern ini dipastikan berjalan secara optimal demi menjaga cadangan beras pemerintah yang lebih berkualitas, aman, dan berkelanjutan.
Hal tersebut semakin membuktikan bahwa pemerintah hadir untuk petani melalui Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Keberadaan Bulog, saat ini dan masa depan akan tetap menjadi tumpuan dalam membangkitkan dan menjaga spirit petani untuk terus turun ke sawah karena ada kepastian gabah dinilai baik. Swasembada dan kedaulatan pangan optimis akan terus berkelanjutan. Semoga...!!!
Editor : Nanang Mairiadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026