Jakarta (ANTARA) - Pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Alexander Yahya Datuk menilai kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) berpotensi mengurangi praktik underinvoicing dan transfer pricing sekaligus memperkuat tata ekspor komoditas strategis nasional ketika diimplementasikan secara optimal.

Alexander dalam keterangannya di Jakarta, Senin, menilai pola tata kelola ekspor seperti DSI bukan hal baru dalam praktik global.

Sejumlah negara telah menerapkan model serupa untuk memperkuat pengawasan perdagangan komoditas, meningkatkan transparansi, dan memastikan manfaat ekonomi ekspor dapat kembali lebih optimal ke negara.

“Secara preseden ternyata pola seperti ini juga sudah dilakukan oleh banyak negara juga, dan menurut saya secara teori seharusnya ada potensi besar kita untuk bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan masalah transfer pricing dan underinvoicing, dan meningkatkan pendapatan negara devisa negara,” ujar Alexander.

Menurut Alexander, apabila praktik underinvoicing dan transfer pricing dapat ditekan, potensi peningkatan devisa negara juga akan makin besar.

Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak positif terhadap stabilitas ekonomi, termasuk memperkuat kemampuan menjaga nilai tukar rupiah serta memastikan dana hasil ekspor tersimpan dalam sistem keuangan nasional.

“Logikanya, kan akan bisa menjaga kurs mata uang kita sekaligus juga memastikan dana itu tersimpan di sistem perbankan nasional,” katanya.

Lebih lanjut, Alexander melihat pembentukan DSI juga dapat menjadi momentum transformasi tata kelola ekspor nasional menuju sistem yang lebih berbasis teknologi dan transparansi.

Pengelolaan ekspor ke depan dinilai perlu ditopang sistem yang memungkinkan seluruh transaksi tercatat, terdokumentasi, dan dapat diawasi secara lebih baik.

Meski begitu, Alexander menekankan pentingnya masa transisi pada tahap awal operasional DSI. Ia menilai periode sekitar tujuh bulan pertama akan menjadi fase krusial untuk membangun sistem, platform, dan infrastruktur pendukung agar mekanisme kerja dapat berjalan efektif sesuai target.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi pada fase awal sangat ditentukan oleh kesiapan manajemen dalam membangun platform dan sistem operasional yang mampu mendukung transaksi secara efektif dan tepat waktu.

“Platformnya sudah harus siap dan berfungsi dengan baik dan bertransaksi dengan efektif,” tuturnya.



Pewarta: Imamatul Silfia
Uploader : Ariyadi

COPYRIGHT © ANTARA 2026