Kota Jambi (ANTARA) - Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jambi mendorong strategi pertumbuhan sektor ketahanan pangan di daerah itu berbasis kewilayahan, karena masih menghadapi tantangan yang kompleks.
"Jambi memerlukan penanganan serius, karena produksi beras yang rendah, produktivitas padi tertinggal, dan tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar daerah akibatnya menyebabkan defisit pangan," kata Kepala Seksi PPA 2C Kanwil DJPb Jambi Mustaqim Siga di Jambi, Selasa.
Menurut dia, meskipun capaian indeks ketahanan pangan menunjukkan perbaikan pada tingkat provinsi, namun masih banyak desa yang masuk kategori rentan.
Faktornya seperti infrastruktur yang terbatas, adopsi teknologi yang rendah, usia petani yang semakin tua, fluktuasi harga, hingga dampak perubahan iklim, turut memperlemah sistem pangan daerah.
"Indeks ketahanan pangan Jambi memang menunjukkan perbaikan, tetapi kesenjangan antar wilayah masih tinggi. Ada desa yang sangat rentan terhadap krisis pangan," kata Mustaqim.
Ia mengatakan strategi pertumbuhan regional ke depan harus mengintegrasikan aspek ekonomi dan ketahanan pangan secara seimbang dan menyeluruh.
Ada langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain perlindungan dan optimalisasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Pertumbuhan berbasis pangan dan pengembangan diversifikasi komoditas, penguatan infrastruktur pertanian dan logistik.
Selanjutnya regenerasi petani dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta intervensi mikro di desa rentan pangan.
“Ketahanan pangan ini bukan hanya soal produksi, tapi juga soal keberlanjutan dan pemerataan. Pendekatannya harus kewilayahan dan holistik,” katanya.
Dia juga mendorong percepatan penyusunan peta kawasan ketahanan pangan sebagai panduan visual untuk memastikan efektivitas intervensi.
Pihaknya berharap peta pembangunan kawasan ketahanan pangan menjadi panduan visual yang efektif untuk mengarahkan upaya kolektif menuju kemandirian pangan di seluruh wilayah Jambi, dari tingkat provinsi hingga desa.
