Jambi (ANTARA Jambi) - Warga Kota Jambi yang juga pelanggan PLN menyatakan kesal karena energi listrik yang dialiri PLN dalam sepekan terakhir sering padam.
Salah satu pelanggan PLN di Kota Jambi, Sriani di Jambi, Selasa, mengatakan listrik padam biasa satu minggu sekali. Tapi sejak dua pekan ini sering padam. Listrik padam tidak hanya siang tapi juga malam hari.
"Belakangan ini mati lampu terjadi hampir setiap hari. Bahkan pada siang hari, sore hari, dan malam hari. Mati lampu rata-rata lamanya tiga jam," kata Sriani.
Listrik padam kata Sriani tentu saja menggangu aktivitas di rumahnya. Apalagi ketika listrik padam air PDAM pun ikut mati. Akibatnya kegiatan mencuci, mensetrika dan memasak nasi pun terhambat.
"Kemarin mati lampu dari pukul 17.00 dan hidup sekitar pukul 20.00 Wib. Air juga ikut mati. Hari ini listrik mati pukul 14.00 WIB dan biasanya hidup pukul 17.00 WIB. Biasanya kalau mati sekitar tiga jam," kata Sriani menjelaskan.
Warga Kabupaten Muarojambi, Ana, juga mengakui hal yang sama, dalam sehari lampu PLN pasti mati sampai tiga jam.
"Matinya lama hampir tiga jam, kadang sore habis waktu Isya' baru hidup lagi. Terkadang pagi hari dan siang baru hidup. Yang jelas tiap hari lampu PLN sekarang sering padam," kata Ana.
Sementara itu, Manajer PT PLN Area Jambi, Selamat mengatakan, saat ini memang ada pemadaman listrik bergilir. Hal itu disebabkan oleh kondisi beberapa pembangkit di kawasan Sumbagselteng rusak. Sehingga, ada pengurangan daya di masing-masing provinsi tersebut.
"Ini tidak hanya di Jambi saja, tapi di Riau, Bengkulu, Sumbar, dan Palembang juga seperti itu. Ada pemadaman bergilir," kata Selamat.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sumatera Barat saat ini sedang kekurangan debit air karena musim kemarau. Sementara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) juga rusak akibat kabut asap.
Asisten Manager Jaringan PT PLN Area Jambi, Khairul Lingga mengatakan, ada 13 pembangkit yang saat ini tengah rusak. Tiga diantaranya berada di Jambi. Yakni dua pembangkit di Payo Selincah Kota Jambi dan satu di Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi.
"Kalau di Jambi PLTG rusak karena kabut asap. Kan kabut itu mengendap di alat, sehingga harus dibersihkan," kata Lingga.
Dengan rusaknya pembangkit tersebut, untuk Area Kabupaten Bungo dan Area Jambi mendapat jatah pengurangan daya sebesar 29,95 MW pada siang hari dan 38,64 MW pada malam hari.
Khusus untuk area Jambi yang meliputi lima kabupaten/ kota, mendapatkan jatah pengurangan daya 60 persen dari total tersebut yakni 18 MW pada siang hari dan 20 MW pada malam hari.
"Lima kabupaten/ kota itu adalah Muarojambi, Kota Jambi, Batanghari, Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat," katanya menjelaskan.
Lingga mengatakan pemadaman bergilir dilakukan setiap hari untuk periode tanggal 28 September hingga 1 Oktober mendatang. Durasi pemadaman tersebut sekitar dua Jam. Waktu pemadaman dimulai dari pukul 08.00 hingga 23.30 Wib.
"Kita atur bergilir, mungkin hari ini dia dapat mati lampu siang hari, besoknya sore hari, besoknya lagi malam hari. Supaya merata pemadamannya," katanya.
Lantas sampai kapan akan dilakukan pemadaman bergilir, Lingga mengatakan tidak dapat memastikannya. Namun yang jelas, pada periode ini lampu mati paling lama 2,5 jam per hari.
"Kalau tanggal 2 Oktober nanti belum tau mati lampunya berapa jam, kita berharap tidak ada mati lampu lagi nantinya. Tapi karena defisit daya, harus kita lakukan," katanya menambahkan. (Ant)