Pinto dihubungi dari Jambi, Minggu, mengatakan bahwa idenya membuat produk itu karena melihat bahwa di Jambi banyak kekayaan alam yang bisa diolah.
Diantaranya pandan rawa, dan di Kabupaten Bungo banyak rawa yang ditumbuhi pandan, disitulah dirinya berpikir untuk menjadikan pandan rawa tersebut menjadi kain.
"Sayang kalau tidak dimanfaatkan. Saya ingat ada teman bisa memintal daun nanas, kenapa tidak pandan ini diolah juga diambil seratnya untuk dijadikan tekstil. Saya coba ambil seratnya menjadi kain," kata Pinto.
Pengrajin Jambi ini menjelaskan, proses untuk menghasilkan kain dari pandan rawa berlangsung sekitar 9 bulan, mulai dari riset yang ia lakukan sampai menjadi produk.
"Risetnya kerjasama dengan teman jurusan Kimia ITB, terus ada dari Jepang yang bantu. Gimana teknologi pemintalan benangnya, mereka yang bantuin saya, sehingga pandan itu bisa menjadi serat yang kemudian dijadikan kain," katanya menjelaskan.
Bahan baku katanya diambil di Bungo, pembenaman dan pewarnaan juga di Bungo, tetapi pemintalan dilakukan di Sulawesi Selatan dibantu temannya, karena pemintalan sutra yang paling bagus ada di sana.
Pinto mengatakan, kain yang dihasilkan dari serat pandan rawa tersebut digunakan untuk kain batik dan kain lainnya, namun sekarang ini condong dibuat menjadi bahan batik dengan pewarna alam.
Alhasil karya pengrajin Jambi ini diganjar dengan penghargaan yang sangat membanggakan Provinsi Jambi dalam Iven Inacraft atau pemeran dan perdagagangan kerajinan dan ekonomi kreatif terbesar di Indonesia ke-19 Tahun 2017
Pinto meraih The Best Product 2017 yang diberikan pada Jumat (28/4) di Jakarta, sekaligus diberikan hadiah Rp1 miliar dari BNI Life, tiket Jakarta-Yogyakarta dari Batik Airlines dan piagam serta tropi penghargaan.
"Saya berterimakasih kepada Bupati dan Ketua Dekranasda Bungo dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bungo. Waktu mengadakan riset, saya minta izin kepada Ketua Dekranasda Bungo untuk berangkat. Ini masih 75 persen, mungkin butuh satu kali lagi ke Jepang untuk riset terakhir, rencana akan dirampungkan tahun 2017 ini juga," kata Pinto.
Pinto juga berterima kasih kepada Ketua Dekranasda Provinsi Jambi, Sherrin Tharia Zola yang memotivasi dirinya menciptakan inovasi baru.
"Bu Sherrin bilang Pinto buat dong inovasi buat Jambi, saya berpikir, apa kira-kira inovasi yang bagus buat Jambi, dan alhamdulillah idenya dapat dan bisa diwujudkan menjadi produk," ujarnya.
Pengurus Dekranasda Provinsi Jambi, Ely mengatakan, prestasi ini sangat membanggakan bukan hanya bagi Dekranasda Provinsi Jambi dan Dekranasda Kabupaten Bungo, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Provinsi Jambi.
Ely mengungkapkan, setelaah 19 tahun Inacraft diselenggarakan, baru kali ini Provinsi Jambi mendapat penghargaan terbaik dan selain karena kecerdasan Pinto, juga tidak terlepas dari kerjasama dan sinergi Dekrasanda Provinsi Jambi dengan Dekranasda kabupaten/kota.
Sementara itu, Ketua Dekranasda
Provinsi Jambi, Sherrin Tharia Zola mengaku senang dan bersyukur atas apa yang di raih oleh pengrajin Jambi itu.
"Alhamdulillah saya bersyukur sekali, ini prestasi yang luar biasa, Inacraft tahun ini membawa berkah untuk pengrajin Jambi dan membuat mereka lebih semangat," kata Sherrin.
Sherrin berharap torehan ini ke depannya bisa memacu pengrajin dan Dekranasda supaya lebih semangat lagi, dan Dekranasda siap jadi pengayom dan orangtua para pengrajin.
"Prestasi ini harus membuat mereka lebih semangat lagi, bahwa Jambi itu diperhitungkan, bukan hanya meramaikan," ujarnya.
Istri Gubernur Jambi Zumi Zola ini juga berpesan agar masyarakat Provinsi Jambi lebih menghargai produk Jambi, diantaranya Batik Jambi.(Ant)
Pewarta: Dodi SaputraEditor : Dodi Saputra
COPYRIGHT © ANTARA 2026