Prof. Tan lahir pada 13 Agustus 1958 di Desa Sungai Medang, Kerinci. Kini usianya memasuki 68 tahun dan diperkirakan akan memasuki masa pensiun sekitar dua tahun lagi. Ia dengan bangga mengakui asal-usulnya sebagai orang dusun.
“Saya lahir di Kerinci, bukan di kota tetapi di dusun. Saya ini orang dusun yang bisa menjadi profesor,” ujarnya.
Ayahnya merupakan seorang pegawai negeri golongan IIc sekaligus ulama yang rutin mengisi pengajian di kampungnya. Sementara ibunya setia mendampingi sang ayah dalam kegiatan keagamaan. Masa kecil Prof. Tan jauh dari kemewahan. Untuk menempuh pendidikan SD hingga SMP di Sungai Penuh, ia harus berjalan kaki sekitar enam kilometer setiap hari. Jalan yang dilalui saat itu belum beraspal.
Ia bahkan sering menjinjing sepatu karena jalan yang berlumpur dan berbatu. Tidak ada uang jajan, tidak ada kendaraan, semua dijalani dengan kesabaran.
“Orang mungkin melihat saya sekarang senang. Tapi kesenangan itu diberikan Allah karena usaha masa lalu yang penuh kesusahan,” ungkapnya.
Setelah lulus SMP, Prof. Tan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) karena keterbatasan ekonomi keluarga. Ia lulus pada 1978, namun tetap berkeinginan melanjutkan pendidikan. Karena lulusan STM tidak dapat langsung masuk perguruan tinggi, ia menempuh pendidikan SMA selama satu tahun di Padang.
Pada 1979, ia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1984. Setelah lulus, ia sempat merantau ke Jakarta untuk bekerja. Pada 1986, ia menikah dan pada tahun yang sama menerima Surat Keputusan sebagai dosen di Universitas Jambi.
Prof. Tan melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia pada 1988 dan menyelesaikannya pada 1990. Ia kemudian kembali menempuh pendidikan doktor di universitas yang sama pada 1994. Selama berada di Jakarta, ia juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Trisakti. Setelah meraih gelar doktor, ia kembali ke Jambi pada 2000.
Sepulang ke Jambi, karier Prof. Tan terus berkembang. Ia pernah menjabat Ketua Jurusan, Ketua Program Magister Ekonomi Pembangunan, hingga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Selain itu, ia sempat menjadi staf ahli gubernur dan Ketua Bappeda Kota Jambi.
Pengalaman kepemimpinannya semakin luas ketika dipercaya menjadi rektor Universitas Muara Bungo selama tiga tahun sebelum kembali ke Universitas Jambi. Pada 2023, ia terpilih sebagai Ketua Senat Universitas Jambi, memperoleh kepercayaan penuh dari sivitas akademika.
Prof. Tan menegaskan bahwa keputusannya maju sebagai Ketua Senat murni dilandasi keinginan untuk berkontribusi bagi universitas.
“Filosofi hidup saya sederhana, kalau kita mampu memberi sesuatu untuk orang lain, maka kejarlah kesempatan itu. Melalui jabatan kita bisa memberikan solusi terbaik,” ujarnya.
Dalam kehidupan keluarga, Prof. Tan dikaruniai tiga orang anak perempuan, yaitu dr. Esa Indah Ayudia, M.Biomed., yang menjadi dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UNJA, Maulidia Imastary Tan, S.E., M.M. dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNJA, serta drg. Trya Aldila Tan yang berprofesi sebagai dokter gigi. Ia juga memiliki enam orang cucu, terdiri dari tiga laki-laki dan tiga perempuan.
Baginya, keluarga merupakan sumber kebahagiaan sekaligus kekuatan dalam menjalani kehidupan. Ia bahkan sejak awal telah merencanakan agar anak-anaknya tetap tinggal berdekatan dengannya agar hubungan keluarga tetap erat.
Menjelang masa pensiunnya, Prof. Tan masih aktif mengajar secara langsung di kampus. Ia menolak hanya mengajar secara daring karena ingin tetap berinteraksi langsung dengan mahasiswa.
Di akhir perbincangan, Prof. Tan menyampaikan pesan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa. Ia menegaskan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih melalui usaha.
“My advice to everyone, semua peran dan kesuksesan ada di tangan kita. Jika menghadapi kegagalan, learn today, try again tomorrow, and tomorrow again. Don’t stop trying. Jangan berhenti mencoba sampai kamu sukses,” tutupnya.
Pewarta: Nanang MairiadiUploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026