Bogor (ANTARA Jambi) - Aktor senior dan juga tokoh perfilman Indonesia, Slamet Rahardjo, mengungkapkan rasa kehilangannya atas wafatnya Misbach Yusa Biran bin Ayun Musobiran.
"Dia adalah guru saya, saya belajar tentang perfilman dari dia. Dialah yang mengajarkan saya tentang sinematografi," kata Slamet saat ditemui disela-sela pemakaman Misbach di TPU Yayasan Al Ilhiyah, Ciomas, Kota Bogor Rabu.
Menurut Slamet, kepergiran Misbach adalah kehilangan terbesar insan perfilman. Karena suami dari aktris film Nani Wijaya ini merupakan pendiri Sinematek Indonesia.
Sosok Misbach di mata Slamet adalah orang yang perfeksionis dalam menjalankan tugasnya dan tidak mengenal lelah.
"Saya pernah mendapatkan nilai 10 dari pelajaran dia. Saya mengerjakan tugas darinya nyaris tanpa koma," kata pemeran film "Pasir Berbisik" tersebut.
Slamet mengungkapkan, kenangan terakhir bersama almarhum terjadi setahun silam. Saat itu sempat membahas tentang pembuatan film Pangeran Tirtayasa yang rencananya akan dibuat oleh Misbach.
Sejak saat itu, lanjut Slamet ia tidak sempat bercengkrama panjang lagi dengan almarhum selain hanya bertemua di acara kondangan dan kegiatan film.
Slamet menyebutkan, kepergian Misbach sebagai perenungan bagi insan film Indonesia. Karena seorang seperti Misbach tidak akan ada lagi yang menggantikannya.
"Orang seperti Misbach hanya ada satu, dia pakar sinematografi Indonesia, dia punya semua dokumentasi film Indonesia dan mendirikan museum Sinematek," kata Slamet.
Menurut Slamet, Misbach adalah tokoh perfilman Indonesia yang perlu dipanuti, kedisiplinan, dedikasi dan karya serta prestasi yang dibuatnya untuk perkembangan film Indonesia.
Kenangan terakhir yang masih teringiang di benak Slamet akan hadirnya sosok Misbach, bahwa ia pernah menanyakan kepada ayah dari Sukma Ayu ini kapan akan pensiun mengingat usainya yang sudah dibilang tidak muda lagi.
"Tapi dari sana saya belajar, bahwa dunia perfilman Indonesia tidak mengenal usia. Membuat sebuah karya tidak memandang tua muapun muda. Meski sudah tua, kita harus tetap berkarya," katanya.
Slamet mengaku cukup bangga dapat mengenal dan dididik langsung oleh Misbach. Hingga kini iapun mengikuti jejak Misbach yang pernah memimpin dalam sebuah organisasi perfilman Indonesia.
"Saya kenal Misbach sejak tahun 1970, sudah 42 tahun saya kenal dia," katanya.
Misbach meninggal Rabu sekitar pukul 07.00 WIB di Rumah Sakit Eka Hospital Bumi Serpong Damai Tanggerang karena menderita sakit pada paru-parunya.
Misbach dimakamkan di samping makan putri bungsunya, Sukma Ayu, yang telah wafat lebih dulu pada September 2004 lalu.
Prosesi pemakaman Misbach dihadiri ratusan warga dan juga sejumlah aktor dan aktris perfilm dan tokoh film lainnya. (KR-LR)
