Bangko, Merangin (ANTARA) - Ratusan warga berkumpul di lapangan terbuka untuk melaksanakan tradisi turun-temurun "Bantaian Adat" dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Acara ini dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kabupaten Merangin, A. Khafidh yang hadir mewakili Bupati Merangin, M. Syukur.
Tahun ini, antusiasme masyarakat terlihat meningkat drastis dengan jumlah hewan ternak yang disembelih mencapai 13 ekor kerbau, meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun lalu yang hanya tujuh ekor.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati A. Khafidh menyampaikan permohonan maaf dari Bupati M. Syukur yang berhalangan hadir karena tengah menjalankan tugas kedinasan di Desa Pinang Merah. Ia mengapresiasi kekompakan warga Bukit Batu dalam menjaga kelestarian adat istiadat.
"Pemerintah Kabupaten Merangin merasa bangga. Berkumpulnya masyarakat di sini bukan sekadar memotong daging, tapi merupakan bentuk rasa syukur. Secara ekonomi, kenaikan dari 7 menjadi 13 ekor kerbau ini menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat Bukit Batu," ujar Wabup Khafidh.
Beliau juga mengingatkan agar semangat bantaian ini diikuti dengan ketaatan terhadap kesepakatan adat yang telah dibuat.
"Mari kita taati apa yang sudah disepakati ninik mamak. Jangan sampai ada selisih paham. Mari kita masuki bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan saling memaafkan," tambahnya.
Sebelumnya, Tokoh Adat Bukit Batu, Datuk Harun, menjelaskan filosofi bantaian adat tersebut.
Ia menuturkan bahwa pembagian daging mengikuti aturan yang telah digariskan oleh para pendahulu, di mana prinsip keadilan bagi pemilik ternak dan masyarakat menjadi prioritas.
"Ada pepatah, manusia batingkek turun, maningga warih tingga pusako. Tradisi ini tidak boleh hilang. Aturan bantaian ini sudah diambil oleh penghulu datuk-datuk masa dulu dengan bijaksana," ungkap Datuk Harun dalam balutan bahasa adat yang kental.
Ia merinci bahwa seluruh proses, mulai dari pemilihan bagian daging untuk ninik mamak hingga pembagian untuk masyarakat, dilakukan dengan transparan.
"Daging gajah sama dilapah, daging tunggal sama dicacah. Artinya, semua merasakan nikmat yang sama. Harapan kita, tahun depan jumlahnya bisa terus bertambah,"katanya.
