"Berdasarkan hasil pemeriksaan BPOM yang dikeluarkan pada tanggal 3 Januari 2019 lalu, hasil pengujian mikrobiologi terhadap sampel makanan berupa gado gado tersebut ditemukan sejumlah koloni mikroba jenis E-coli dan S.aureus," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari dr Elfie Yenni di Muarabulian, Sabtu.
Kelompok pengajian di Desa Rambutan Masam Kecamatan Muara Tembesi yang alami keracunan tersebut disebabkan oleh makanan berupa gado-gado yang dikonsumsi telah terkontaminasi bakteri Eschericia coli dan Staphylococcus areus.
Dari 72 pasien yang sempat mengalami keracunan pada kejadian KLB tersebut. Hingga saat ini seluruh pasien telah sembuh. Kasus keracunan seperti yang dialami oleh warga Desa Rambutan Masam tersebut biasanya tidak berdampak untuk jangka panjang.
"Untuk kasus ini tidak harus melalui penanganan khusus, yang terpenting untuk menghindari terulangnya kejadian serupa dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat," kata dr Elfi.
Dengan kejadian tersebut, masayarakat diminta lebih waspada dan memperhatikan lagi dalam melakukan pengolahan makanan. Terutama terkait bahan, dan kehigienisan bahan baku maupun peralatan memasak yang digunanakan. Tujuannya untuk menghindari terjadinya hal serupa terjadi kembali.
Dalam memilih bahan makanan, hendaknya memilih bahan yg masih segar dan tidakk rusak. Bila berupa makanan kemasan, Cek KLIK (kemasan, label, izin edar dan masa kedaluarsa).
Kejadian keracunan di daerah itu terjadi pada tanggal 14 Desember 2018 yang lalu. Puluhan warga diduga keracunan usai menyatap makanan diacara pengajian rutin di daerah itu. Sehingga puluhan warga yang alami keracunan tersebut terpaksa harus mendapatkan perawatan dari pihak rumah sakit dan puskesmas setempat.
Pewarta: Muhammad HanapiEditor : Nanang Mairiadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026