Kota Jambi (ANTARA) - Kamera jebak (camera trap) berhasil merekam dua individu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Nasional (TN) Berbak melalui kegiatan monitoring yang dilaksanakan Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang (BTNBS) tahun 2025 pada sebagian kecil wilayah habitat harimau (site) monitoring Berbak.
Kepala Balai TNBS Yunaidi di Jambi, Rabu, mengatakan pihaknya tidak dapat menyimpulkan perkiraan (estimasi) kepadatan salah satu predator puncak itu, mengingat minimnya data perjumpaan Harimau Sumatera.
Tahun ini pihaknya memasang 15 petak (grid) ukuran 3x3 kilometer persegi (km2) di habitat harimau (site). Secara keseluruhan terdapat tiga lokasi monitoring, dengan rincian satu site di Taman Nasional (TN) Berbak dan dua site di TN Sembilang disebar di site Ngirawan Benu dan site Bungin Sembilang.
Yunaidi menjelaskan upaya monitoring di kawasan TN Berbak telah dilakukan sejak tahun 2007. Hampir selama 18 tahun terakhir populasi harimau di TN Berbak cenderung stabil pada sepuluh tahun (dasawarsa) pertama dan menurun pada akhir dasawarsa kedua.
Berdasarkan pemantauan populasi pada periode 2010 ditemukan 1,02 individu setiap 100 kilometer persegi (km2). Kemudian periode 2015 meningkat menjadi sebesar 1,2 individu/100 km2, pada periode 2018 meningkat lagi menjadi sebesar 1,46 individu/100 km2, pada periode 2020 menurun menjadi sebesar 0,53 individu/100 km2, dan periode 2021 meningkat menjadi sebesar 1,69 individu/100 km2.
Kenaikan kepadatan dari periode 2010 sampai 2018 merupakan indikasi terjadinya peningkatan populasi dan pertumbuhan populasi harimau di Berbak dalam jangka waktu tersebut. Indikasi terjadinya pertumbuhan populasi juga didapatkan dari foto harimau yang sedang hamil dan foto anakan harimau.
Sedangkan penurunan nilai kepadatan pada periode 2020 tidak serta-merta mengindikasikan terjadinya penurunan populasi harimau di alam.
Namun setelah dilakukan monitoring periode 2021 mengalami kenaikan yang signifikan, kata dia, hal ini ditandai dengan perjumpaan harimau sebanyak 18 individu di 23 pembagian area hutan (grid) dari 51 grid total di blok inti monitoring harimau.
Beberapa individu lainnya merupakan harimau baru yang baru terdeteksi pada kegiatan monitoring tahun 2021. Kemudian pada tahun 2022 BTNBS kembali melakukan kegiatan monitoring populasi Harimau Sumatera di TN Berbak dan berhasil memperkarakan kepadatan Harimau Sumatera sebesar 0,66 Individu/100 km2.
Menurut dia, penurunan populasi ini kuat dugaan akibat kelangkaan satwa mangsa babi hutan sehingga dugaan sementara harimau sumatera bermigrasi ke lokasi lain untuk mencari satwa mangsa utama.
"Pelaksanaan pemantauan harimau pada periode 2020 ini dilakukan hanya berjarak tiga bulan pasca-terjadinya kebakaran hutan di situs pemantauan Berbak, sehingga dimungkinkan bahwa beberapa individu harimau penghuni situs ini melakukan pergeseran sementara ke lokasi yang lebih kondusif," kata Yunaidi.
