Jambi (ANTARA Jambi) - Sungai Batanghari yang selama ini menjadi andalan hidup ribuan ribuan warga Provinsi Jambi terus mengalami pencemaran, terutama oleh racun mercuri yang banyak digunakan oleh penambang emas tanpa izin yang beroperasi di sepanjang daerah aliran sungai tersebut.
Racun mercuri atau logam berat ini juga mengancam habitat ikan yang hidup di Sungai Batanghari, termasuk usaha budidaya keramba dan jaring apung yang diusahakan warga masyarakat, kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jambi Herman Rahim di Jambi, Kamis.
"Maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) telah mencemari sungai terpanjang di Sumatra itu, dan sejumlah anak sungainya," katanya.
Bahan kimia yang digunakan oleh PETI menimbulkan racun mercuri di sungai tersebut, dan keberadaannya dapat mengganggu pengembangan perikanan budi daya jaring apung dan keramba serta ikan yang hidup bebas di sungai tersebut.
Tingkat pencemaran Sungai Batanghari kian meningkat, baik oleh limbah rumah tangga, perusahaan maupun PETI, dan itu dapat menganggu perkembangnya ikan yang ada, baik yang hidup di alam bebas,maupun yang dibudidayakan.
Di Sungai Batanghari kini terdapat 20.000 lebih keramba dan jaring apung untuk budidaya berbagai jenis ikan air tawar, seperti nila, patin jambal dan lainnya, program itu akan terus ditingkatkan, terutama patin jambal.
Khusus dalam pengamanan dan pengawasan tingkat kualitas air, apakah layak untuk pengembangan perikanan untuk dikonsumsi, DKP secara rutin terus melakukan pengujian.
Sampai saat ini kadar kualitas air di Sungai Batanghari masih layak untuk pengembangan sektor perikanan budidaya ikan air tawar, dan ikan yang dihasilkan pun aman untuk dikonsumsi, namun bila PETI tetap dibiarkan, logam berat dan racun lainnnya akan mengancam usaha perikanan tersebut.
Kendati masih layak bagi pengembangan sektor perikanan, untuk tetap menjaga kualitas air, DKP bekerja sama dengan berbagai instansi terkait terus memerangi PETI, karena tidak menutup kemungkinan bila tidak dicegah, mercuri yang dihasilkan bisa meresap ke tubuh ikan dan berbahaya untuk dikonsumsi.
Ikan budidaya keramba dan jaring apung masih dimungkinkan terhindar dari racun logam berat, karena dia hidup di permukaan air dan makannya juga dipasok, namun bila musim hujan seperti saat ini, endapan racun itu bisa saja naik ke permukaan, tambah Herman Rahim.
(T.M037)
