Batanghari (ANTARA) - Suroso (36) warga Desa Penerokan kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari memilih 'banting stir' dari petani karet menjadi petani sayuran.
Alasan beralih sebagai petani sayur karena harga jual karet beberapa bulan terakhir anjlok yang membuatnya harus banting setir untuk memenuhi kebutuhan sehari hari.
"Karena harga jual karet murah, saya memberanikan diri beralih sebagai petani sayur," ungkapnya saat ditemui di lahan miliknya, Minggu (04/10).
Dalam menjalankan budidaya sayurab, Suroso belajar secara otodidak, dilahan seluas 800 meter persegi, Suroso menanam berbagai jenis sayuran seperti kacang panjang, pare, dan gambas.
Alasan memilih sayuran ini karena dianggap lebih mudah ditanam dan bisa panen lebih cepat.
Hasil yang diperoleh cukup memuaskan, dalam sekali panen kacang panjang misalnya, Suroso mampu mendapatkan 50kg hingga 100kg. Proses panen rutin dilakukan dalam dua hari sekali.
Dapat dihitung 1kg kacang panjang biasa ia jual dengan harga Rp 5 ribu per kilogram, jika sekali panen ia mendapat 90kg maka omset yang diperoleh Rp 450ribu per dua hari.
Hasil kebunnya dipasok ke pedagang sayur pasar wilayah Muara Bulian, maupun pedagang sayur disekitar rumahnya, bahkan terkadang ada tetangga yang datang langsung untuk membeli.
Selain menanam di lahan sendiri kini ia menyewa lahan kosong milik tetangga untuk terus mengembangkan bisnisnya.
Suroso meyakini bahwa bisnis pertanian tidak ada matinya, karena setiap hari manusia mengkonsumsi sayur mengingat sayur memang menjadi kebutuhan pokok yang kaya akan gizi.
