Jambi (ANTARA) - Salah satu perusahaan Hutan Tanaman Industri PT Wirakarya Sakti (APP Group) siapkan tim Regu Pengendali Kebakaran (RPK) untuk antisipasi Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di musim kemarau tahun ini.
Fire Preparation Head PT WKS Agus Sibarani di lokasi Distrik 7 Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjungjabung Timur, Jambi Rabu, mengatakan untuk tahun ini perusahaan sudah menyiagakan RPK diseluruh distrik.
Khusus untuk distrik 7 perusahaan telah menyiagakan Regu Pengendali Kebakaran lengkap dengan peralatannya.
PT Wirakarya Sakti (APP Group) di Distrik 7 Kecamatan Geragai, Tanjungjabung Timur, Jambi telah disiagakan 30 anggota RPK.
Peralatan yang dimiliki tim RPK dengan membuat menara pantau portabel setinggi 15 meter dan menara permanen tinggi 30 meter, peralatan pemadaman, sepeda motor, mobil, alat pemadam mobile, airboat dan drone untuk memantau lewat udara.
Untuk di Distrik 7 ke-30 anggota akan menjaga seluas 33 ribu hektare yang secara rutin melakukan patroli baik menggunakan sepeda motor, mobil maupun airboat ke seluruh wilayah.
Ke-30 orang anggota RPK sudah dibekali dengan kemampuan masing-masing di bidangnya sesuai dengan peralatan yang ada.
"Penempatan tim RPK tergantung luas lahannya yang kami terapkan karena luasan lahan milik PT WKS berbeda-beda di Provinsi Jambi," kata Agus Sibarani.
Agus menambahkan, selain menyiagakan personel dan peralatan, perusahaan juga menerapkan pilar pencegahan sebagai bagian dari Integrated Fire Management APP Group.
Upaya ini mencakup sosialisasi ke masyarakat, edukasi ke sekolah, serta pemasangan plang-plang larangan dan himbauan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan api.
Internal perusahaan juga dilatih agar tahu bagaimana mengantisipasi kebakaran serta memadamkan api secara cepat, bahkan karyawan di distrik juga wajib siaga sesuai status Fire Danger Rating System (FDRS).
"Jika sudah level kuning atau merah, laporan kondisi wilayah wajib disampaikan ke Situation Room setiap 30 menit," jelasnya.
Komitmen pencegahan WKS juga berlaku hingga radius 5 kilometer di luar konsesi. Patroli rutin dilakukan dengan menara pantau, CCTV, dan drone.
"Karena beberapa kejadian api berasal dari luar konsesi, kami tidak ingin kebakaran meluas masuk ke dalam area perusahaan. Jika ada asap dalam radius 5 km, tim langsung kita respon,” tambah Agus.
Perusahaan juga melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang direkrut dan dilatih di desa-desa sekitar konsesi. Setiap desa diberdayakan 15 orang MPA yang aktif melaporkan kondisi wilayah lewat grup WhatsApp setiap jam.
Menurut Agus, minat masyarakat untuk bergabung tinggi, bahkan seringkali melebihi kuota yang dibutuhkan.
“MPA ini menjadi mitra penting kami di lapangan, karena mereka warga setempat yang paling tahu kondisi sekitar dan sekaligus bagian dari kolaborasi kami dengan Satgas Karhutla Provinsi, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan perangkat desa,” katanya.
