Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa Hanif Dhakiri menegaskan PKB menghormati kemandirian Nahdlatul Ulama (NU).
Walaupun demikian, Hanif mengatakan PKB memiliki ikatan historis dan ideologis yang tidak terpisahkan dari NU. Kemudian bila mengutip mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dia menyebut PKB sebagai “telurnya NU”.
“Sebagai anak, PKB tidak mungkin lepas tangan. Namun, cinta tidak berarti mencampuri. PKB menghormati penuh kemandirian NU, dan tidak masuk ke urusan internal,” ujar Hanif di Jakarta, Kamis.
Sementara itu, dia mengatakan PKB memandang dinamika di tubuh organisasi NU sebagai momentum konsolidasi dan pembaruan, baik pada aspek kelembagaan, tata kelola, maupun kepemimpinan.
Menurut dia, momentum tersebut perlu agar NU tetap kokoh menjalankan khidmah atau pelayanan keumatan dan kebangsaan.
“NU adalah pilar moderasi Islam, perekat sosial, dan penyangga moral bangsa. Jika NU melemah, baik secara kelembagaan, konsolidasi, maupun arah kepemimpinan, maka risikonya bukan hanya bagi warga NU, tetapi juga bagi stabilitas dan masa depan Indonesia,” katanya.
Selain itu, dia mengatakan PKB memandang penting penguatan organisasi, pembaruan tata kelola, serta transformasi kepemimpinan yang berakar pada nilai dan garis perjuangan para pendiri NU, yaitu melayani umat, menjaga bangsa, dan menjadi sumber kebijaksanaan.
“NU terlalu besar untuk terseret kepentingan sempit. NU penting bagi negara, penting bagi pemerintah, dan penting bagi masa depan Indonesia. Menjaga NU tetap kuat, relevan, dan bersatu adalah kepentingan bersama,” ujarnya.
Oleh sebab itu, dia menyatakan PKB berkomitmen untuk terus merawat nilai, menjaga marwah ulama, dan memastikan NU memasuki abad kedua sebagai kekuatan peradaban yang memberi manfaat nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Adapun Hanif menyampaikan pernyataan tersebut dalam diskusi publik yang digelar DPP PKB bertajuk “Transformasi Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua”.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh dan intelektual NU, antara lain Abdussalam Shohib, AS Hikam, Said Aqil Siroj, Zulfa Mustofa, Fachry Ali, Yusuf Chudlory, maupun Savic Ali.
