Nusa Dua, Bali (ANTARA) - Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) semakin menunjukkan perannya bagi kemajuan industri sawit nasional, ditunjukan dengan antusias peserta yang capai 1.545 orang dari 28 negara.
"Antusias peserta pada IPOC kali ini mencatatkan rekor dan luar biasa. Sebanyak 1.545 peserta dari 28 negara telah bergabung dan sekaligus menjadi bukti vitalitas industri sawit Indonesia," kata Ketua Panitia Pelaksana IPOC ke-21, Mona Surya saat beri sambutan, Kamis.
Sebagai forum strategis tahunan yang menjadi barometer arah kebijakan dan prospek industri kelapa sawit nasional maupun global.
Konferensi ini menghadirkan pembicara kelas dunia, pengambil kebijakan dan para pemimpin di bidang masing-masing semakin dinilai penting para pelaku industri sawit nasional.
Menurut Mona, tahun ini terjadi gelombang sponsor baru, dengan 38 perusahaan terkemuka yang berkontribusi pada konferensi.
Ruang pameran yang disediakan telah dipenuhi dengan 113 stan, lengkap dengan penampilan inovasi-inovasi terbaru.
Selain menjadi moment yang inspiratif bagi pengembangan dan kemajuan industri sawit, menurut Mona, IPOC juga menjadi ajang membangun jaringan.
Mengingat arti penting jejaring, seperti tahun-tahun sebelumnya konferensi sawit kali ini pun dilengkapi dengan serangkaian acara jejaring untuk membina hubungan yang mendorong kemajuan bisnis.
Konferensi diawali dengan kompetisi yang bersahabat di lapangan hijau pada turnamen golf, lalu digelar juga kegiatan bincang-bincang santai saat menikmati koktail, maupun networking night sambil menikmati hiburan.
Seluruhnya dirancang untuk memicu terciptanya kesepakatan dan terjalinnya kemitraan diantara para pelaku industri sawit.
Tahun ini, GAPKI mengangkat tema “Navigating Complexity, Driving Growth: Governance, Biofuel Policy, and Global Trade.”
Menurut dia, industri sawit nasional memang tengah menghadapi dunia dengan kompleksitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Itulah sebabnya tema tahun ini sangat relevan.
Tantangan-tantangan yang tidak ringan itu misalnya volatilitas harga, stagnasi di wilayah-wilayah penghasil utama, maupun hambatan perdagangan yang signifikan seperti Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR).
Regulasi nasional dan kebijakan global, menurut Mona, bukan sekadar latar belakang, keduanya merupakan kekuatan aktif yang membentuk operasionalisasi di industri sawit Indonesia.
Kendati demikian, menurut Mona, di balik tantangan-tantangan ini tersimpan peluang yang sangat besar. Karena itu, agenda tahun ini disusun dengan cermat.
Diharapkan, konferensi akan menghasilkan kajian-kajian mengenai kebijakan domestik Indonesia, dorongan strategi untuk ketahanan industri, kajian terhadap implikasi EUDR, maupun terbukanya wawasan pasar dari para pelaku pasar regional, sekaligus prediksi dan analisis masa depan mengenai prospek harga minyak sawit.
