Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani meminta Satgas Pangan menindak tegas penjualan Minyakita dan telur ayam ras di atas harga eceran tertinggi (HET) demi menjaga stabilitas selama Natal dan Tahun Baru 2025/2026.
"Kalau memang yang nakal para pengecernya, ya... pengecernya diberikan sanksi. Namun, apabila yang nakal itu distributornya, ya... distributornya yang diberikan sanksi," kata Rizal di Jakarta, Rabu.
Rizal menyampaikan hal itu menyikapi hasil monitoring pangan di pasar Rawamangun, Jakarta, yang mana Bulog menemukan Minyakita yang dijual pedagang di pasar itu mencapai Rp16.000 per liter.
Harga Minyakita tersebut melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter, sebagaimana tercantum jelas pada kemasan resmi produk minyak goreng rakyat tersebut.
Atas temuan itu, Dirut Bulog secara langsung menyerahkan kasus Minyakita tersebut kepada Satgas Pangan sebagai barang bukti lapangan, guna ditindaklanjuti dan disesuaikan kembali sesuai ketentuan HET yang berlaku.
"Indonesia adalah produsen minyak goreng terbesar sedunia. Jadi tidak ada alasan sebetulnya stok itu terbatas. Seyogyanya stok kita harusnya melimpah," ucapnya.
Apalagi, Rizal mengaku sebelumnya bersama Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menemukan adanya harga komoditas itu yang dijual di atas HET saat kunjungan ke Pasar Wonokromo Surabaya pada Senin (23/12).
Ia menegaskan komitmen pemerintah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok demi melindungi daya beli masyarakat.
"Nah ini kami akan dalami, tadi disampaikan para pengecer katanya mereka kesulitan mendapatkan stok Minyakita. Nanti Satgas Pangan tindaklanjuti kenapa, alasannya, kok sampai kesulitan mendapatkan stok bahan dari Minyakita tersebut," beber Rizal.
Selain Minyakita, Bulog juga menemukan harga telur ayam ras dijual Rp32.000 per kilogram, melebihi ketentuan maksimal Rp30.000 per kilogram yang ditetapkan pemerintah.
Temuan harga telur tersebut turut diserahkan kepada Satgas Pangan untuk ditindaklanjuti, agar penyesuaian segera dilakukan demi melindungi daya beli masyarakat terutama selama Natal dan Tahun Baru 2025/2026.
Lebih lanjut Rizal mengatakan monitoring dan operasi pasar dilakukan serentak bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan Bapanas, sebagai upaya konkret menahan potensi kenaikan harga menjelang hari besar keagamaan nasional.
Sinergi lintas lembaga itu memastikan pengawasan berjalan efektif dari hulu hingga hilir, sekaligus mempercepat respons terhadap temuan pelanggaran harga pangan strategis di lapangan.
Melalui langkah konsisten tersebut, Bulog optimistis harga pangan pokok tetap terkendali, sehingga masyarakat dapat menjalani Natal dan tahun baru dengan tenang.
"Supaya kita meringankan beban para masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan Natal dan tahun baru, supaya harga tetap stabil dan tidak melonjak tinggi," kata Rizal.
