Dalam kesempatan tersebut, Prof. Andiopenta menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Kedwibahasaan, Literasi, Mobilitas, dan Adopsi Inovasi: Pengembangan Sumber Daya Manusia Berkualitas Berbasis Sosiolinguistik.” Orasi tersebut memuat refleksi perjalanan hidup, perjuangan akademik, serta pandangannya mengenai peran sosiolinguistik dalam pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.
Prof. Andiopenta lahir di Pematang Purba, Simalungun, Sumatera Utara, pada 16 September 1966. Ia berasal dari keluarga sederhana dengan sembilan bersaudara. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru. Keterbatasan ekonomi membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan ke kota seperti saudara-saudaranya dan harus tinggal di kampung sambil membantu orang tua memelihara ternak.
“Saya dibesarkan dalam keterbatasan, tetapi dari situlah saya belajar arti tanggung jawab dan kerja keras,” ungkap Prof. Andiopenta.
Ia menempuh pendidikan di SD Pematang Purba (1979), SMP Tigarunggu (1982), SMA Saribudolok (1985). Saat duduk di bangku SMA, ia belajar secara mandiri menggunakan buku-buku ringkasan pelajaran. Meski harus membeli buku dengan cara berutang, ia belajar selama enam bulan hingga akhirnya berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Dari sekitar 80 siswa di daerahnya, hanya dua orang yang lolos, dan ia menjadi salah satunya.
“Keberhasilan itu bukan karena saya paling pintar, tetapi karena saya mempersiapkan diri dan memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin,” katanya.
Prof. Andiopenta menyelesaikan pendidikan S1 Bahasa pada tahun 1990 dan melanjutkan studi S2 Linguistik dengan konsentrasi Bahasa Indonesia. Ketertarikannya pada bidang sosiolinguistik didasarkan pada pandangannya bahwa bahasa selalu hadir dalam kehidupan sosial masyarakat dan akan selalu relevan untuk dikaji.
“Tanpa bahasa, apa yang bisa kita lakukan? Karena itu saya memilih bidang linguistik dan kebahasaan yang pasti eksis dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Upaya melanjutkan pendidikan doktoral sempat terkendala saat menempuh studi Ilmu Sosial di Pascasarjana Universitas Airlangga pada tahun 2000 yang tidak dapat diselesaikan. Baru pada tahun 2014, ia melanjutkan studi Doktor Kependidikan di Pascasarjana Universitas Jambi dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2020.
“Saya sudah tiga kali menempuh pendidikan S3, tetapi yang memiliki ijazah hanya satu. Dari situ saya belajar bahwa manajemen waktu dan komitmen sangat menentukan keberhasilan,” ujarnya.
Dalam perjuangannya meraih gelar guru besar, Prof. Andiopenta mengaku menghadapi tekanan mental, penolakan, dan frustrasi. Namun, ia tetap menulis dan berkarya sedikit demi sedikit setiap hari, termasuk memanfaatkan teknologi penerjemah untuk membantu penulisan karya ilmiah berbahasa Inggris.
“Kuncinya adalah konsistensi, kesabaran, dan manajemen diri dalam menghadapi stres akademik,” tegasnya.
Kepada mahasiswa, ia berpesan agar memiliki tujuan yang jelas dalam menempuh pendidikan tinggi dan tidak semata-mata mengejar nilai, melainkan prestasi dan pengetahuan.
“Jangan mengejar indeks prestasi, tetapi kejarlah prestasinya. Nilai hanyalah gambaran dari pengetahuan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan para dosen muda agar segera melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral dan tidak menunda pengembangan karier akademik.
“Tidak ada kata terlambat. Saya baru menjadi guru besar pada usia 60 tahun, tetapi masih ada waktu untuk mengabdi dan berkarya,” pungkasnya.
Pengukuhan Prof. Andiopenta menjadi bukti bahwa ketekunan, konsistensi, dan komitmen dalam menempuh pendidikan mampu mengantarkan seseorang pada puncak capaian akademik serta menginspirasi sivitas akademika untuk terus berkarya dan mengabdi di bidang pendidikan.
Pewarta: Nanang MairiadiUploader : Ariyadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026