Jambi (ANTARA) - Mahasiswi magang Humas Universitas Jambi (UNJA) menjual produk bertema kearifan lokal Jambi dalam Bazar Ramadan Dharma Wanita Persatuan (DWP) UNJA.
Mahasiswa tersebut, Daniatus Sabilah, merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP yang sedang melaksanakan magang di Humas UNJA.
Sabilah mengungkapkan bahwa ide pembuatan gantungan kunci tersebut berawal dari tugas mata kuliah Industri Kreatif.
“Awalnya ini hanya tugas kelompok pada mata kuliah Industri Kreatif. Dosen saya memberikan tugas akhir untuk menjual produk yang bertemakan kearifan budaya lokal Jambi,” ujar Sabilah.
Ia memilih gantungan kunci karena produk tersebut sedang menjadi tren di kalangan anak muda yang menjadi target pasarnya.
“Sekarang gantungan kunci menjadi tren di kalangan anak muda, terutama generasi Z yang gemar mengoleksi gantungan kunci di tas mereka. Karena itu, saya menggabungkan tren dan budaya agar masyarakat tetap mengenal kearifan lokal Jambi,” ucapnya.
Beberapa kearifan lokal Jambi yang dijadikan desain gantungan kunci antara lain Gunung Kerinci, Candi Muaro Jambi, Tempoyak, Tradisi Berkerobong, dan kisah Tapa Malenggang yang menjadi ciri khas dari berbagai daerah di Jambi.
“Saya mengambil kearifan lokal dari setiap daerah di Jambi, seperti Kerinci yang terkenal dengan Gunung Kerinci, Muaro Jambi dengan Candi terluas di Asia Tenggara, Jambi dengan makanan khas Tempoyak, Jambi Seberang dengan tradisi Berkerobong, serta Batanghari yang dikenal dengan kisah Tapa Malenggang.
Setiap kearifan lokal memiliki nilai budaya dan daya tarik tersendiri. Terutama tradisi Berkerobong yang ingin saya populerkan kembali di kalangan generasi muda agar mereka mengetahui bahwa Jambi memiliki tradisi yang menjunjung tinggi marwah perempuan,” jelasnya.
Melalui partisipasinya dalam Bazar Ramadan DWP UNJA, Sabilah berharap produknya tidak hanya diminati sebagai aksesori, tetapi juga menjadi media pengenalan budaya Jambi kepada generasi muda. Ia menilai, mengemas kearifan lokal dalam bentuk yang relevan dengan tren dapat menjadi strategi efektif untuk menjaga eksistensi budaya di tengah arus modernisasi. Ke depan, Sabilah berencana mengembangkan desain yang lebih variatif serta memperluas pemasaran produknya agar nilai-nilai budaya Jambi semakin dikenal, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas.
