SORE yang teduh awal pekan Desember 2018, Reza dan dua orang temannya berlarian bermain ditengah banjir dari luapan sungai Batanghari di samping rumah panggungnya yang berada di Kelurahan Penyengat Rendah, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.

Ketiga anak kecil yang baru saja meletakkan seragam sekolahnya itu tampak riang gembira. Sesekali mereka bermain sembari saling memercikkan air ke badan mereka yang sudah basah kuyup itu.

Saat mereka asik bermain air banjir tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah panggung yang memanggil salah satu nama dari ketiga anak kecil itu yang mengisyaratkan untuk berhenti bermain air.

"Reza.... lah sudah main airnyo tu," begitu terdengar suara seorang dari dalam rumah panggung itu.

Kemudian Reza pun langsung menyahut "Iyo Sayo (saya), Pakwo." lantas kemudian mereka masih tetap asik bermain air.

Tak berselang lama setelah mereka puas bermain air, kemudian Reza dan dua temannya itu pun masuk ke dalam rumah. Ternyata yang memangil Reza tadi untuk berhenti bermain banjir itu adalah Pakwo (Bapak tuo) atau saudara Ibu laki-laki tertua.

"Sayo dan Pakwo" merupakan salah satu panggilan bebaso untuk menunjukkan derajat hubungan kekerabatan dan kesopanan bagi masyarakat di Kelurahan Penyengat Rendah, Kota Jambi.

"Sayo itu bahasa yang sopan, kalau bahasa kasarnya itu Aku, dan juga kalau kita berbicara dengan yang lebih tua baiknya menggunakan Sayo, supaya sopan" kata Tokoh Adat Penyengat Rendah, Raden Rivai saat ditemui Antara.

Di lingkungan keluarga Raden Rivai itu saat ini masih menunjung sopan santun bahasa dalam berkomunikasi.

Selain itu masyarakat di kampung Kelurahan Penyengat Rendah, yang secara geografis berada di bibir sungai Batanghari itu sebagian masih menggunakan bebaso untuk komunikasi dengan kerabat dan masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari menurut Rivai, sangat membutuhkan pergaulan baik terhadap orang yang tua, sebaya atau yang lebih kecil maupun terhadap lawan jenis.

Dia menyontohkan bagaimana ketika kita lewat di depan orang yang lebih tua sebaiknya menunduk dengan tangan kanan diulurkan ke bawah. Selain itu bagaimana tata cara kita menjawab panggilan orang yang lebih tua.

"Bagaimana kita menjawab panggilan itu dianjurkan dengan ucapan kata-kata Sayo, Kulo (kita hormati)," kata Rivai yang kini telah menginjak usia 70 tahun itu.

Bentuk dan Perkembangan Bebaso

Bebaso dalam berkomunikasi merupakan tradisi adat istiadat dari nenek moyang di Penyengat Rendah. Secara garis besar tradisi bebaso itu hampir mirip dengan tradisi bebasa yang ada di Jawa atau yang lebih kenal disebut dengan kromo inggil (bahasa halus).

Bahkan kosa kata yang di lafalkan dalam bebaso itu pun hampir sama dengan bahasa jawa, misalnya kulo (saya), nggih (iya), niki (ini), lawang (pintu) dan lain sebagainya.

Menurut Tokoh Masyarakat setempat, Raden Achyar, kosa kata bebaso yang memiliki kemiripan dengan bahasa kromo inggil Jawa karena masih ada pengaruh dari kerajaan di Jawa yang juga menyebar ke tanah melayu di Jambi.

"Bebaso di Penyengat Rendah ini ada pengaruhnya dari Jawa, sehingga kalau kita lihat memang ada kemiripan. Saat itu orang-orang di kerajaan di Jawa kan juga menyebar ke tanah melayu di Jambi," katanya.

Meskipun Raden Achyar secara struktural menjabat sebagai Ketua LAM Kecamatan Danau Teluk, namun dia juga konsen memahami bebaso di Kelurahan Penyengat Rendah, Telanaipura, yang merupakan tanah kelahirannya itu.

Tradisi bebaso selain untuk komunikasi yang sopan, juga digunakan untuk panggilan seseorang dalam hubungan kekerabatan. Panggilan bebaso itu menunjukkan derajat hubungan (perkawinan dan hubungan darah).

Bebaso itu juga ada dalam penyebutan atau penghormatan kepada orang yang lebih tua untuk berinteraksi, seperti setiap bahasa ada sebutan sebutan yang khas dan spesifik.

Achyar menjelaskan, bentuk panggilan bebaso itu misalnya panggilan untuk saudara ibu laki-laki tertua; biasa di panggil Pakwo (bapak tuo) dan ada juga yang menyebutkan Paklung (bapak sulung) dan yang tengah dipanggil Pakngah (bapak tengah).

Kemudian saudara ibu laki-laki tengah dipanggil Pakngah (bapak tengah). Selain itu untuk yang bungsu dipanggil Uncu (panggilan bunggu).

Sedangkan diatas Uncu bisa dipanggil Pakcik (bapak kecil) dan juga Makcik (mamak kecil atau tante dari Ibu).

Namun kata Raden Achyar, jika dalam keluarga Ibu cukup banyak namun tidak tepat dikategorikan sebagai Pakwo, Pakngah, Pakcik atau Uncu, maka panggilan biasanya menunjukkan fisik dari panggilan seseorang itu.

Misalnya Pakmuk (bapak gemuk), Paktih (bapak putih), Pakjang (bapak panjang atau kurus), Pakte (bapak kate/pendek/bapak kecil). Panggilan Paktih juga bisa diartikan bapak putih yang menunjukkan fisik dari kekerabatannya itu.

Selain itu, untuk saudara Bapak, biasanya menunjukkan derajat dari urutan saudara bapak itu sendiri. Pakwo (Bapak tuo) biasanya menunjukkan dia laki-laki pertama atau tertua.

"Dalam tradisi itu kita tidak dibolehkan memanggil seseorang yang sudah berkeluarga dengan panggilan nama saja. Jadi untuk hubungan kekerabatan harus bebaso," katanya menjelaskan.

Raden Achyar yang konsen terhadap adat istiadat di Kelurahan Penyengat Rendah itu sangat berharap agar bebaso masih terus digunakan oleh masyarakat di kelurahannya itu dalam berinteraksi dan komunikasi.

Sebab dengan bebaso dapat mengangkat jati diri budaya masyarakat untuk senantiasa hidup rukun dan damai di dalam lingkungannya itu dan sebagai wujud sopan santun dalam berinteraksi dan komunikasi.

Namun dewasa ini ditengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, bebaso yang ada di Kelurahan Penyengat Rendah, Kota Jambi, sudah mulai jarang digunakan oleh generasi muda dalam berinteraksi dengan orang yang lebih tua.

Mulai jarang digunakannya budaya dan panggilan bebaso itu menurut Achyar, selain pengaruh teknologi informasi juga dipengaruhi penduduk yang heterogen dan masuknya budaya dari luar yang memang tak dapat dihindari.

Meskipun mendapat pengaruh tersebut, namun katanya, hal itu harus dibarengi dengan peran orang tua untuk dapat meneruskan budaya bebaso kepada generasinya.

"Orang tua juga sudah jarang meneruskan budaya bebaso itu kepada anak-anaknya, jadi harus ada peran dari orang tua untuk mengenalkannya," katanya.

Saat ini sekitar 25 persen budaya bebaso itu sudah mengalami pergeseran. Sehingga, jika kondisi tersebut dibiarkan, maka kata Raden Ahyar, dikhawatrikan secara perlahan budaya itu akan luntur dan bahkan bisa punah.

Padahal budaya bebaso itu menurut dia, suatu budaya masa lampau yang memiliki etika dan sopan santun yang harus dilestarikan bagi generasi muda saat ini ditengah gempuran arus teknologi informasi.

Selain itu anak muda sekarang juga dinilai masih enggan untuk menggunakan bebaso, karena menganggap bebaso itu sebagai hal yang tidak modern atau kuno.

Sebab itu diperlukan intervensi yang masif dari semua pihak, termasuk pemerintah dan swasta agar turut melestarikan tradisi bebaso supaya juga dimengerti oleh generasi muda saat ini.

"Harus ada kerja sama semua pihak. Misalnya mentradisikan kepada anak-anak remaja,  bebaso itu apa?. Remaja sekarang harus mengerti apa arti dan pentingnya bebaso," ujarnya.

Mengenalkan Bebaso

Atas kekhawatiran dari para tokoh dan tetua adat itu, gayung bersambut budaya bebaso itu pun pada akhir tahun 2017 dicanangkan dalam program Kampung Berseri Astra (KBA) di kampung Kelurahan Penyengat Rendah yang mencakup 4 RT sekaligus, yakni di RT 05, 06, 07 dan 08.

Dalam pencanangan kawasan bebaso itu dilakukan berbagai pertemuan yang terus dilakukan untuk mematangkan pencanangan kawasan bebaso, sehingga bebaso mudah dikenalkan dan masuk ke forum remaja dan masyarakat di kawasan tersebut.

Abdurahman selaku Kordinator Kampung Berseri Astra ditingkat masyarakat mengatakan, dari berbagai pertemuan yang telah dilakukan sebelumnya itu disepakati bebaso dimasukan dalam program Kampung Berseri Astra yang masuk dalam pilar pendidikan yang didalam juga terdapat kebudayaan.

Awalnya kata dia, bebaso itu disarankan hanya digunakan dalam lingkungan RT untuk bersosialisasi kepada warga, termasuk jika ada warga yang datang mengurus administrasi ke RT disarankan menggunakan bebaso.

Namun kata Abdurahman, dengan Kampung Berseri Astra itu menjadi momen supaya budaya bebaso itu lebih luas lagi dan mencakup satu kampung. Sehingga saat ini pun yang telah dicanangkan di kawasan KBA itu telah diprogramkan, yakni setiap hari Senin dan Jumat disarankan menggunakan bebaso dalam berinteraksi.

"Atas pencanangan itu, setiap hari Senin dan Jumat minimal dalam berinteraksi di dalam lingkungan keluarganya itu wajib menggunakan bebaso, sehingga ini nanti bisa menjadi tradisi dan mengenalkan budaya bebaso," katanya.

Pada hari tertentu menggunakan bebaso minimal dalam berinteraksi sesama keluarganya itu, saat ini masih terus berlanjut.  "Minimal bebaso ini dikenalkan dalam lingkungan keluarganya sendiri lah, artinya kita peduli dari tingkat keluarga kita dulu," kata dia.

Pihaknya juga berencana pada tahun 2019 akan memasukan program dengan mengadakan sarasehan menggundang pihak berkompeten yang nantinya tidak hanya mengidentifikasi kosa kata bebaso itu. Tapi juga akan merumuskan langkah yang tepat dalam pelestarian budaya bebaso tersebut.

"Ini nanti juga bisa mendorong supaya anak-anak remaja justru tidak malah merasa malu, justru harus membangkitkan rasa bangga mereka untuk bebaso, nanti juga akan kita coba organisir misalnya dengan membuat model komunitas remaja bebaso," katanya.

"Bebaso ini warisan kita, jadi harus kita jaga. Kalau ini hilang, anak cucu kita nanti tidak akan tahu lagi apa itu bebaso, kalau pun ada hanya sebatas catatan saja dan tidak ada orang yang menggunakan lagi," katanya.

Sementara itu, Korwil Astra Wilayah Jambi Riston Julius Tarigan mengatakan, pencanangan kawasan bebaso di Kampung Berseri Astra tersebut adalah bagian dari kepedulian terhadap budaya yang telah mulai luntur.

Kampung Berseri Astra merupakan program kontribusi sosial berkelanjutan yang diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pengembangan yang bermuara dalam 4 pilar, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan dan Kewirausahaan.

Dipilihnya Kelurahan Penyengat Rendah untuk masuk dalam program Kampung Berseri Astra itu adalah kata Riston, atas saran Pemerintah Kota Jambi, mengingat kelurahan tersebut juga telah menang Kampung Bantar sehingga program ini perlu diselaraskan.

Sehingga diharapkan Kampung Berseri Astra Penyengat rendah dapat menjadi kampung atau wilayah yang menginspirasi wilayah lainnya.

"Untuk pencanangan kawasan bebaso itu, masuk pilar Pendidikan yang didalamnya juga ada kebudayaan, kita masukan dalam prgram KBA ini karena bentuk kepedulian terhadap budaya," kata Riston.

Menurut dia, dalam pelestarian budaya dan panggilan bebaso itu diperlukan melalui program yang dicampurkan dengan gaya generasi muda saat ini yang lebih cenderung milenial.

Dengan mencampurkan gaya milenial dalam pelestarian bebaso itu dinilai cukup efektif. Misalnya dengan mengadakan lomba seloko adat yang di dalamnya juga terdapat bebaso.

"Pada tahun 2018, kita sudah menggelar lomba seloko adat yang juga didalamya menggunakan bebaso, dan itu mendapat antusias dari generasi muda," katanya.

Selain itu, dalam mengorganisir agar generasi muda di Kampung Berseri Astra tersebut mau berkumpul dengan membentuk kelompok peduli bebaso itu pihaknya, siap mensupport dengan memfasilitasi tempat dan kebutuhannya.

"Kita siap mendukung anak-anak muda di Penyengat Rendah supaya mereka bisa kumpul. Kumpul di sini dalam artian yang sangat baik kumpul yang tidak hura-hura, tapi kumpul-kumpul membicarakan dan membahas pelestarian budaya bebaso," demikian Riston.

 

Peta Kampung Berseri Astra (KBA) di Kelurahan Penyengat Rendah, Telanaipura, Kota Jambi. (Antaranews Jambi/Gresi Plasmanto)

 

 

 



Pewarta: Gresi Plasmanto
Editor : Dodi Saputra

COPYRIGHT © ANTARA 2026