Jambi (ANTARA Jambi) - Bupati Tanjung Jabung Timur, Jambi, Zumi Zola berharap ritual Mandi Safar tetap terjaga dan menjadi aset budaya daerah serta nasional.
"Selain sebagai upaya menjaga warisan budaya nenek moyang, tradisi Mandi Safar secara hakekat adalah refleksi dari komunitas masyarakat yang religius, yang diambil dari penjabaran dari filosofi Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah," ujar Bupati Zumi Zola di Muarasabak, Kamis.
Menurut Bupati yang juga mantan artis dan pesinetron ini, ritual Mandi Shafar juga sebagai prosesi adat yang merupakan hasil kekayaan budaya daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan.
Tradisi ini salah satu sarana untuk mewujudkan masyarakat yang religius dan agamais serta sebagai upaya memajukan perekonomian rakyat dan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata.
"Adanya warisan warisan budaya ini merupakan keunggulan tersendiri di tiap daerah yang seharusnya tetap dijaga dan dilestarikan," tambahnya.
Berdasarkan catatan yang ada, prosesi Mandi Safar ini adalah tradisi warisan nenek moyang yang berasal dari Bugis.
Bagi sejumlah warga, Mandi Safar ini merupakan ritual untuk meminta kepada Sang Kuasa agar terhindar dari bahaya, penyakit dan mensucikan diri dari dosa dengan menceburkan diri ke laut.
Untuk di Tanjabtim, ritual Mandi Safar dipusatkan di Desa Air Hitam Laut Kecamatan Sadu, merupakan deerah yang memiliki potensi besar akan objek wisata alam maupun budaya.
Desa Air Hitam Laut juga merupakan salah satu pintu masuk kawasan Taman Nasional Berbak (TNB) yang memiliki potensi ekowisata dengan berbagai jenis flora dan fauna.
Selain itu, Desa Air Hitam laut juga sangat dekat dengan pantai Cemara yang memiliki pantai pasir putih dengan hutan cemara laut yang spesifik.
Pantai itu memiliki panjang sekitar 20 Km dan lebar antara 20-30 meter dengan kedalaman kurang dari lima meter. Saat ombak tenang, pantai atau laut di pulau itu sangat cocok untuk sarana olahraga pantai seperti selancar atau memancing.(Ant)
